KLIKJATIM.Com | Sampang – Kondisi infrastruktur pendidikan di Kabupaten Sampang kembali menjadi sorotan. Bangunan SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat memprihatinkan.
Sejumlah ruang kelas kini dalam kondisi tidak layak pakai, sehingga memaksa pihak sekolah memutar otak agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap bisa berjalan meski di tengah berbagai keterbatasan.
Baca juga: Program ESDM Dipertanyakan, 5 Motor Listrik Konversi Pemkab Jember Diduga Mangkrak dan Tak Terawat
Warga setempat, Yulianti, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan tersebut sudah berlangsung cukup lama dan sangat mengganggu kenyamanan siswa. Akibat minimnya ruang kelas yang aman, para siswa harus berbagi tempat di ruangan yang tersisa.
“Iya, sudah lama rusak. Banyak ruang kelas yang kondisinya parah. Belajarnya tetap di sekolah, tapi dibagi di beberapa tempat. Kalau hujan, kami juga khawatir,” keluh Yulianti pada Kamis (12/2/2026).
Kondisi fisik bangunan yang mengkhawatirkan ini pun mulai berdampak pada kepercayaan wali murid. Yulianti menyebutkan bahwa jumlah siswa terus menyusut karena banyak orang tua yang memilih memindahkan anak mereka ke sekolah dengan fasilitas yang lebih menjamin keamanan.
“Awalnya muridnya cukup banyak, tapi karena bangunannya rusak, ada orang tua yang memindahkan anaknya ke sekolah lain,” jelasnya.
Kepala SDN Margantoko 1, Suranta, membenarkan bahwa kerusakan bangunan tersebut sudah pada tahap yang parah dan tidak cukup jika hanya ditangani dengan perbaikan kecil. Sejak pertama kali bertugas, ia mendapati kondisi sekolah memang sudah tidak ideal untuk proses pendidikan.
“Sejak saya bertugas di sini, kondisi bangunan memang sudah rusak dan cukup parah. Perbaikan kecil tidak akan menyelesaikan masalah,” ucap Suranta.
Baca juga: Pecahkan Rekor Sejarah! Misi Dagang Jatim di Malaysia Tembus Transaksi Rp15,25 Triliun
Pihak sekolah mengaku tidak tinggal diam dan telah berkali-kali melayangkan permohonan bantuan kepada Dinas Pendidikan setempat. Namun, hingga saat ini realisasi perbaikan yang diharapkan belum kunjung tiba.
“Pengajuan sudah kami lakukan sejak 2024 dan kembali diajukan pada 2026. Informasinya sudah masuk perencanaan, namun hingga kini belum ada realisasi. Anak-anak ini masih dalam masa perkembangan. Kami khawatir kondisi belajar yang tidak layak bisa berdampak pada kesehatan dan kenyamanan mereka,” paparnya.
Berdasarkan catatan sekolah, rehabilitasi terakhir kali dilakukan pada tahun 2012 silam. Dampak nyata dari terbengkalainya bangunan ini terlihat dari penurunan jumlah siswa secara konsisten. Pada tahun 2022, sekolah masih memiliki 40 siswa, namun angka tersebut terus merosot hingga kini hanya tersisa 34 anak.
Menanggapi persoalan ini, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Yusuf, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah memasukkan SDN Margantoko 1 dalam daftar usulan program rehabilitasi. Namun, ia menekankan bahwa keputusan akhir berada di tangan pemerintah pusat.
Baca juga: Apresiasi Perjuangan Atlet, KONI Sampang Guyur Reward bagi Peraih Medali Porprov Jatim 2025
“Sekolah tersebut sudah kami usulkan dalam program rehab. Namun penetapannya ada di kementerian. Kami hanya mengusulkan sesuai kuota yang diberikan,” ujar Yusuf.
Yusuf menambahkan bahwa terbatasnya kuota bantuan menjadi kendala utama dalam memeratakan perbaikan gedung sekolah di wilayah Sampang. Sebagai gambaran, tahun lalu hanya 14 sekolah dasar yang mendapatkan bantuan dari total usulan yang sangat banyak.
“Tahun lalu bahkan hanya 14 SD yang mendapatkan bantuan, dibagi dalam dua tahap. Jadi tidak semua usulan bisa langsung terealisasi. Kami tetap berupaya mengusulkan sesuai kuota yang tersedia. Saat ini statusnya sudah diusulkan dan tinggal menunggu proses,” pungkasnya.
Editor : Fatih