KLIKJATIM.Com | Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang peningkatan kuota impor bahan bakar minyak (BBM) bagi badan usaha pengelola SPBU swasta pada 2026. Kuota impor tersebut diperkirakan naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kebijakan ini dinilai berpotensi menjadi sentimen positif bagi PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), khususnya pada bisnis perdagangan dan distribusi BBM yang selama ini menjadi penopang utama kinerja perseroan.
Baca juga: Jaga Stok Darah Awal Tahun, Ratusan Karyawan KEK JIIPE Gresik Gelar Aksi Donor Darah
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai pembukaan kembali keran impor BBM dapat memperbesar pasokan yang didistribusikan AKRA. Hal ini sejalan dengan kontribusi segmen perdagangan dan distribusi BBM yang mencapai sekitar 75 persen terhadap total pendapatan AKRA sepanjang sembilan bulan 2025.
“Tambahan kuota impor berpeluang mendorong peningkatan volume distribusi, seiring tren konsumsi BBM domestik yang terus tumbuh,” ujar Audi.
Sepanjang 2025, konsumsi BBM nasional tercatat meningkat 2,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di saat yang sama, pangsa pasar BBM non-subsidi di luar Pertamina juga menunjukkan kenaikan signifikan, dari 11 persen pada 2024 menjadi sekitar 15 persen pada 2025.
Audi menilai peningkatan peran SPBU non-Pertamina mencerminkan adanya pergeseran permintaan masyarakat ke penyedia swasta. Menurutnya, penambahan impor BBM diperlukan untuk memenuhi kebutuhan riil pasar yang terus berkembang.
Berdasarkan proyeksi Kiwoom Sekuritas, kinerja keuangan AKRA diperkirakan tetap bertumbuh. Pendapatan perseroan diproyeksikan meningkat 5,27 persen yoy menjadi Rp43,4 triliun, didorong oleh kenaikan volume distribusi BBM. Sementara itu, laba per saham (earnings per share/EPS) diperkirakan mencapai Rp137,5 per saham.
Baca juga: Urai Kemacetan Gresik Utara, Jalan Menuju KEK JIIPE Manyar Diperlebar Sepanjang 1,7 KM
Pandangan senada disampaikan pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana. Ia menilai kebijakan ESDM yang kembali membuka izin impor BBM bagi badan usaha swasta menjadi katalis positif bagi prospek AKRA, terutama pada segmen distribusi minyak dan jaringan SPBU non-subsidi.
Hendra mengungkapkan bahwa pada paruh kedua 2025, sejumlah SPBU swasta sempat mengalami kekosongan stok BBM akibat kuota impor yang habis lebih cepat seiring lonjakan konsumsi. Kondisi tersebut berdampak pada terhambatnya volume distribusi.
“Dengan dibukanya kembali impor BBM, pasokan berpotensi kembali normal sehingga mendukung pemulihan volume penjualan dan optimalisasi infrastruktur logistik AKRA,” ujarnya.
Baca juga: Gresik Disulap Jadi Kota Investasi Baru, AKR GEM City Tawarkan Peluang Tak Biasa
Meski demikian, Hendra menilai perseroan tetap harus menghadapi persaingan ketat di pasar BBM non-subsidi serta mengikuti pengaturan kuota dari pemerintah. Tekanan margin akibat persaingan harga dan ketidakpastian kebijakan impor juga menjadi faktor yang perlu dicermati.
Secara keseluruhan, AKRA diproyeksikan mencatat pertumbuhan yang relatif stabil pada 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh normalisasi pasokan BBM, permintaan energi domestik yang masih solid, serta kontribusi pendapatan berulang dari bisnis non-BBM seperti logistik, perdagangan bahan kimia, dan kawasan industri Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE).
Struktur keuangan AKRA yang kuat dengan posisi kas yang solid dinilai memberikan fleksibilitas bagi perseroan untuk menjaga ekspansi dan stabilitas laba di tengah dinamika harga minyak global dan fluktuasi nilai tukar
Editor : Wahyudi