KLIKJATIM.Com | Sumenep - Produksi refuse derived fuel (RDF) yang dihasilkan mesin pengolah sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep, Madura, belum berjalan sesuai target awal.
Fasilitas yang dipasang untuk menekan lonjakan volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) itu masih bekerja dalam kapasitas terbatas.
Baca juga: Bupati Sumenep Ambil Langkah Cepat, Laporkan Pencemaran CPO Gili Iyang ke DLH Jatim
Saat ini, mesin RDF tersebut hanya mampu mengolah sekitar dua ton sampah setiap kali dioperasikan. Kondisi itu diakui langsung oleh Kepala UPT Pengelolaan Sampah DLH Sumenep, Achmad Junaidi.
Ia mengatakan, keterbatasan jam operasional serta minimnya sumber daya manusia menjadi faktor utama belum optimalnya produksi RDF.
“Untuk sementara memang masih terbatas, kurang lebih hanya dua ton setiap kali mesin dijalankan,” kata Junaidi, Senin (29/12).
Menurut dia, DLH Sumenep telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan untuk meningkatkan kinerja mesin pengolah sampah tersebut. Salah satunya dengan menambah jadwal operasional serta memperkuat dukungan peralatan dan tenaga kerja.
“Kami sudah mengarah ke sana. Mulai dari penambahan alat, kemudian ke depan jam operasional juga akan kami tingkatkan,” ujarnya.
Junaidi menambahkan, meskipun kapasitas produksi masih rendah, pihaknya telah melakukan pengiriman perdana RDF hasil olahan sampah ke mitra industri.
Baca juga: Hari Ketiga Tumpahan CPO di Gili Iyang Sumenep, Ikan dan Biota Laut Mulai Ditemukan Mati
Pemerintah Kabupaten Sumenep sebelumnya menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) sebagai pihak penerima RDF.
“Sejak awal beroperasi, total RDF yang baru kami kirim ke PT SBI sebanyak 24,1 ton,” katanya.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari DPRD Sumenep. Ketua Komisi III DPRD Sumenep, M. Muhri, menilai kinerja mesin RDF yang menelan anggaran Rp 2,8 miliar itu harus segera dimaksimalkan.
Ia menegaskan, mesin tersebut tidak hanya difungsikan sebagai solusi pengurangan sampah, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
Baca juga: Warga Cemas Ekosistem Rusak, Pemkab Sumenep Bergerak Bersihkan Tumpahan CPO di Gili Iyang
“Sesuai kesepakatan awal, pembelian mesin ini bukan hanya untuk mengurangi penumpukan sampah, tetapi juga untuk mendorong pendapatan asli daerah,” kata Muhri.
Karena itu, ia meminta DLH Sumenep serius mengoptimalkan pemanfaatan mesin RDF agar investasi besar yang telah dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi daerah.
“Mesin itu harus dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya menegaskan.
Editor : Wahyudi