KLIKJATIM.Com | Jakarta - PT PLN (Persero) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan energi sebagai kunci utama dalam mendorong hilirisasi industri sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Penegasan ini disampaikan dalam plenary session Electricity Connect 2025 di Jakarta, Rabu (19/11).
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menekankan bahwa sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, penguatan ekonomi nasional melalui hilirisasi di seluruh sektor harus ditopang oleh ketahanan energi yang kuat dan ketersediaan kapasitas listrik yang memadai.
Baca juga: MPM Innovation Day 2026: Perkuat Budaya Inovasi melalui Tema Think Beyond The Frame
“Pertumbuhan ekonomi saat ini turut didukung oleh ketersediaan listrik yang mumpuni. Jika kapasitas listrik tidak cukup, maka akan berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi kita ke depan,” tutur Rizal.
Dalam konteks regional, Executive Director ASEAN Centre for Energy (ACE), Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood, menyoroti bahwa permintaan energi di kawasan ASEAN diproyeksikan tumbuh hampir tiga kali lipat pada tahun 2050. Hal ini menuntut transformasi besar pada sistem energi, termasuk penguatan bauran energi bersih.
“Lonjakan permintaan energi tentu menimbulkan tantangan besar bagi sistem energi. Mulai dari hulu hingga hilir, peningkatan permintaan ini membutuhkan transformasi sistem energi untuk menjamin ketahanan dan keandalan,” ujar Razib.
Menjawab tantangan tersebut, PLN merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, di mana pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 Gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Sekitar 76�ri total kapasitas baru tersebut akan berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi.
Baca juga: Innova Oleng dan Hantam Truk Trailer di Jalur Bojonegoro–Babat, Satu Korban Dilarikan ke Rumah Sakit
"Roadmap dalam RUPTL menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa Indonesia menyiapkan fondasi energi yang solid, modern, dan rendah emisi,” kata Rizal.
Selain penambahan kapasitas pembangkit, pemerintah juga menargetkan pembangunan:
- Jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit (kms).
- Gardu induk dengan kapasitas total 107.950 megavolt ampere (MVA).
Rizal menjelaskan, perluasan jaringan transmisi yang lebih kuat dan modern ini akan memastikan setiap tambahan kapasitas pembangkit tersalurkan secara lebih efektif.
Implementasi RUPTL 2025–2034 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi luas, salah satunya adalah melalui penciptaan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja baru. Hal ini menegaskan peran krusial infrastruktur ketenagalistrikan dalam mendorong transformasi ekonomi dan energi nasional.
“Dengan mandat besar dalam RUPTL, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Indonesia dapat bergerak menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutup Rizal.
Editor : Fatih