KLIKJATIM.Com | Malang – Menyikapi lonjakan kasus COVID-19 di beberapa negara, dr. Rezki Tantular, Sp.P, pakar paru dari Universitas Brawijaya (UB), mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Ia menjelaskan bahwa COVID-19 kini telah memasuki siklus fluktuasi, di mana kasus bisa naik dan turun.
"Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap waspada terhadap kasus COVID-19 yang kembali meningkat," kata dr. Rezki.
Baca juga: Jago #Cari_Aman Bersama Honda BeAT: Berkendara Nyaman untuk Mobilitas Harian di Kota Malang
Ia menambahkan, meskipun banyak masyarakat sudah divaksinasi, kewaspadaan dan menjaga kesehatan tetap krusial. "Jika sakit, tetap menggunakan masker, karena yang namanya virus pasti tidak akan pernah hilang."
Baca Juga : Polisi Akan Periksa RSUD Bojonegoro Terkait Pengelolaan Dana Covid-19
dr. Rezki Tantular menyoroti peningkatan kasus signifikan di Asia, seperti Thailand yang mencatat 50 ribu kasus dalam 8 hari dan 100 ribu dalam sebulan, serta Singapura dan Hong Kong. Namun, ia juga mencatat penurunan global di beberapa negara seperti Brazil.
Mengenai jenis virus, dr. Rezki menegaskan bahwa varian yang beredar saat ini bukanlah varian baru, melainkan sub-varian dari Omicron. Meskipun Indonesia tidak melakukan tes massal secara rutin, ia menyebut bahwa kekebalan masyarakat cenderung lebih tinggi karena banyak yang sudah divaksin dan pernah terinfeksi.
"COVID-19 masih ada di Indonesia, namun sudah dianggap endemi, bukan pandemi lagi," tegasnya.
Baca Juga : Tim Renang Gresik Genjot Latihan, Targetkan Tiga Emas di Porprov IX 2025 Malang Raya
dr. Rezki juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memverifikasi informasi terkait COVID-19, khususnya yang menyesatkan. Ia mencontohkan hoaks mengenai vaksin yang tidak dianjurkan untuk wanita hamil dan anak-anak. "Informasi ini salah dan justru pada saat terjadi peningkatan kasus, vaksinasi tetap diperlukan."
Baca juga: Polres Malang Ungkap Pembalakan Liar di Sumbermanjing Wetan
Sejalan dengan dr. Rezki, dr. Andrew William Tulle, M.Sc, pakar virus sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran (FK) UB, menyatakan bahwa virus COVID-19 tidak pernah benar-benar menghilang, hanya saja jumlah kasusnya menurun di Indonesia. "Tapi sejujurnya, COVID-19 masih ada, cuma memang tidak separah dulu."
Menurut dr. Andrew, virus ini terus bermutasi menjadi varian-varian baru. Ketika daya tahan tubuh menurun, ditambah dengan munculnya varian yang lebih mudah masuk dan menyebar, kasus COVID-19 bisa kembali naik. Varian yang merebak saat ini, seperti XAC dan JN1 di Thailand dan Malaysia, serta LF7 dan NB1.8 di Singapura, masih merupakan bagian dari induk Omicron.
Baca Juga : Dinas Kesehatan Sampang Siapkan Perbub Kawasan Tanpa Rokok
Ia menjelaskan bahwa mutasi pada varian baru ini membuatnya lebih kuat berikatan dengan reseptor pada saluran pernapasan, sehingga lebih mudah ditransmisikan antarindividu melalui droplet, batuk, dan bersin. Namun, dr. Andrew menekankan bahwa hal ini tidak berarti virus lebih mudah ditransmisikan melalui aerosol.
Baca juga: Kejari Malang Kota Musnahkan BB 1,47 Sabu dan 37,8 Kg Ganja Kering
dr. Andrew menyarankan agar masyarakat mempertimbangkan untuk melakukan vaksinasi kembali yang telah disesuaikan dengan varian virus terbaru. Vaksin lama masih efektif, namun daya tangkalnya mungkin menurun.
"Kalau di luar negeri seperti di Amerika, hampir setiap tahun mereka membuat varian vaksin baru menyesuaikan dengan varian virus yang terbaru menyebar," jelasnya.
Baca Juga : Prof Widodo Terpilih Jadi Rektor Universitas Brawijaya
Meskipun terjadi peningkatan kasus lintas negara, dr. Andrew belum melihat urgensi untuk menutup aktivitas lintas negara. Ia menekankan perlunya kewaspadaan, seperti pemeriksaan kesehatan bagi pendatang dari luar negeri yang sakit, dan pembatasan aktivitas jika terdeteksi positif COVID-19. "Tapi, tidak perlu sampai menutup perbatasan," pungkasnya. (yud)
Editor : Redaksi