Perjuangan Kartini Jember: Pilih Profesi Jadi Driver Ojol untuk Penuhi Kebutuhan Keluarga

klikjatim.com
Para Driver ojol perempuan di Jember, saat bekerja. (Muhammad Hatta/klikjatim.com)

JEMBER | KLIKJATIM.COM - Di tengah himpitan ekonomi, belasan perempuan di Jember memilih menjadi driver ojek online (ojol) demi menghidupi keluarga. Mereka tergabung dalam komunitas bernama Kartini Jember, yang menjadi tempat bernaung dan saling mendukung di medan kerja yang tidak selalu ramah.

Kelompok ini terdiri dari sekitar 15 orang perempuan, yang setiap hari berkeliling Jember menggunakan aplikasi ojol di ponsel mereka, mengantar penumpang dan barang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Baca juga: Selama 2025, PA Sidoarjo Putuskan 3.408 Janda Baru

“Adanya kelompok ini bernama Kartini Jember, sebagai wadah untuk saling mendukung dan memantau keselamatan saat bekerja, terutama saat malam hari. Tentunya bagi kami, driver ojol perempuan kan rawan,” ujar Lesly Novitasari (42), Ketua Komunitas Kartini Jember, Senin (21/4/2025).

Baca Juga :

Driver Ojol Bakal Dapat Jaminan Sosial Ketenagakerjaan dan Kesehatan

Perempuan asal Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember itu mengaku memilih profesi sebagai driver ojol demi menghidupi keluarganya. Tak sedikit dari anggotanya yang menjanda atau harus bekerja sambil mengasuh anak karena tak ada yang menjaga di rumah.

“Terutama dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Terlebih bagi teman-teman kami yang kondisinya kurang beruntung, ada yang janda, juga ada yang dengan terpaksa menjadi ojol dengan membawa anaknya,” tuturnya.

Lesly mengungkapkan bahwa tidak jarang ia dan rekan-rekannya mengalami pelecehan saat bekerja. Bentuk pelecehan itu mulai dari ucapan hingga perlakuan fisik yang tidak menyenangkan dari penumpang.

Baca Juga :

Pengemudi Ojol di Bojonegoro Penuhi Kantor Samsat Daftar Bebas Pajak Motor

“Contohnya itu ketika kita dapat customer cowok terus dia itu boncengnya mepet banget. Kita beri arahan untuk menjauh, tapi malah tetap dan menjawab, 'Wong di kota lainnya seperti ini gak papa mbak',” kenangnya.

Lesly menegaskan bahwa dirinya langsung memberikan peringatan kepada penumpang tersebut. “Saya jawab, tidak semua sama bapak, kita jual jasa mengantar jenengan. Bukan jual diri,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal buruk, para anggota komunitas saling berbagi lokasi secara real-time. Mereka juga kompak melaporkan kejadian yang mengganggu ke perusahaan aplikasi ojol.

“Nah dari kejadian itu, kita antar anggota selalu share life. Jadi saling tahu lokasi. Jika ada kejadian seperti itu, langsung kita turunkan dan lapor ke kantor,” tambah Lesly.

Menyambut Hari Kartini 21 April 2025, Lesly berharap perusahaan ojol lebih memperhatikan keselamatan driver perempuan, terutama yang bekerja malam hari.

“Keinginannya sih, keamanan kami dari perusahaan agar lebih diperhatikan apalagi kami perempuan,” ungkapnya.

Baca juga: Semangat Karyawan Rayakan MPM Kartini Day.

Harapan serupa disampaikan Fera Kurniawati (25), anggota komunitas asal Dusun Klungkung Krajan, Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi. Ia menjadi driver ojol setelah ditinggal suaminya.

“Saya janda satu orang anak. Sehari-hari ya bekerja ngojek online ini. Karena kondisi, anak saya sering ikut saya ngojek. Ya bagaimana lagi,” kata Fera.

Fera mengaku kerap membawa anaknya saat bekerja, terutama saat cuaca cerah. Namun saat hujan, ia memilih tidak mengajak anaknya keluar rumah.

“Suka dukanya ya, saat hujan gitu dapat orderan penumpang terus dibatalin. Tapi kalau tidak hujan ya saya ajak, juga kepikiran kalau masuk angin. Ya dipakaikan jaket itu,” ceritanya.

Sebagai orang tua tunggal, Fera merasa banyak tantangan yang harus dihadapi di jalan. Namun ia tetap semangat demi anak dan masa depan mereka.

“Alhamdulillah selama bekerja ini baik-baik saja. Tapi ya semoga niat bekerja ini lebih baik, juga perlindungan bagi kami driver perempuan ini. Dapat perhatian khusus,” harapnya.

Baca juga: Pj Wali Kota Kediri: Semangat Kartini Harus Selalu Hidup

Sementara itu, Muizzatuz Zulfa (30) dari Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, mengaku telah lama menjadi driver ojol. Bahkan ia bertemu suaminya yang kini juga driver ojol lewat komunitas.

“Saya ojol sudah lama, sejak sebelum Covid. Suami saya juga sama. Saat itu kita sama-sama single. Ketemu karena sama-sama punya kelompok. Akhirnya menikah,” jelas Zulfa.

Kini setelah berumah tangga dan memiliki anak, Zulfa membatasi area kerja agar bisa tetap dekat dengan rumah dan keluarga. “Kalau saya hanya ambil penumpang di sekitar rumah saja di Ajung,” imbuhnya.

Suaminya, Ahmad Humaidi (31), juga menyampaikan kekhawatirannya. Meski mendukung istrinya bekerja, ia tetap merasa khawatir dengan risiko di jalan.

“Tapi niat istri membantu ekonomi. Karena ya kehidupannya gitu. Tapi kami sama-sama berjuang,” ucap Ahmad, yang kini dikaruniai seorang anak berusia 1,5 tahun. (hat/fiq)

Editor : Muhammad Hatta

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru