klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Banjir Tak Kunjung Usai, Warga Villa Indah Tegal Besar Mengadu ke DPRD Jember

avatar Muhammad Hatta
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Jember – Banjir yang telah bertahun-tahun melanda Perumahan Villa Indah Tegal Besar, Kabupaten Jember, akhirnya mendorong warga menyampaikan keluhan secara resmi kepada DPRD Jember. Aspirasi tersebut disampaikan melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Selasa (20/1/2026).

Keluhan warga memuncak setelah banjir besar kembali terjadi pada awal 2025 lalu. Sedikitnya 71 rumah di perumahan yang berada di bantaran Sungai Bedadung tersebut terendam air. Padahal, menurut warga, persoalan banjir sudah mereka sampaikan sejak beberapa tahun terakhir kepada pengembang maupun pemerintah setempat.

Ahmad Syaifudin, perwakilan warga, menyebut penyebab utama banjir adalah minimnya infrastruktur pengendali air, diperparah dengan letak perumahan yang sangat dekat dengan sungai. Kondisi tersebut membuat kawasan perumahan rawan terdampak luapan air saat curah hujan tinggi.

“Warga meminta relokasi karena kami yakin banjir akan terus berulang. Posisi perumahan yang berada di bantaran sungai menjadi faktor utama,” ujar Syaifudin, Rabu (21/1/2026).

Ia mengungkapkan, banjir yang terjadi selama ini telah menyebabkan kerusakan signifikan. Tercatat sedikitnya 52 rumah mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat akibat banjir pada tahun-tahun sebelumnya.

Situasi semakin mengkhawatirkan setelah tembok pembatas antara perumahan dan Sungai Bedadung mengalami kerusakan parah dan ambrol. Salah satu titik terparah berada di Blok E18, di mana jarak rumah warga hanya sekitar dua meter dari bibir sungai.

“Pelengsengan yang ambrol membuat sungai semakin mendekat. Drainase yang tidak memadai juga menyebabkan air hujan meluap dan masuk ke saluran rumah warga, sehingga banjir kecil kerap terjadi,” jelasnya.

Menurut Syaifudin, banjir di perumahan Villa Indah sudah terjadi sejak 2018, memburuk pada 2021, dan mencapai puncaknya pada awal 2025. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan dan kenyamanan warga.

Bahkan, sejumlah warga mengaku merasa dirugikan karena saat membeli rumah, kondisi bantaran sungai masih tampak aman dengan tembok pembatas yang kokoh.

“Dulu kami tidak tahu jarak sungai sedekat ini. Setelah tembok pembatas rusak, baru terlihat jelas bahwa rumah kami berada di bantaran sungai,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga pun mendesak adanya solusi nyata, mulai dari relokasi, pembangunan tembok pembatas yang kuat, pelengsengan sungai, hingga perbaikan sistem drainase agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.

“Kami berharap pemerintah dan pengembang benar-benar mendengarkan keluhan kami, supaya perumahan ini bisa aman dan layak dihuni,” harap Syaifudin.

Sementara itu, Pemilik sekaligus Pengembang Perumahan PT Sembilan Bintang, Agus Lutfi, membantah tudingan adanya kelalaian dalam proses perizinan pembangunan perumahan. Ia menegaskan seluruh prosedur telah dijalankan sesuai aturan.

“Kami sudah melakukan pengurukan tanah dan memperoleh sertifikat pada 2015. Semua perizinan dan administrasi sudah dipenuhi,” kata Lutfi saat dikonfirmasi terpisah.

Terkait banjir, Lutfi menyebut persoalan tidak semata-mata berasal dari kawasan perumahan, melainkan juga dipengaruhi kondisi aliran sungai dari wilayah hulu.

“Kami sudah melakukan kajian teknis dan mencoba beberapa solusi. Namun, penanganan ini perlu melibatkan OPD terkait agar sesuai regulasi,” ujarnya.

Dalam RDP di DPRD Jember, Lutfi juga menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkoordinasi dengan warga dan pemerintah, termasuk membuka kemungkinan pembangunan hunian sementara (huntara) saat banjir terjadi.

“Kami akan melakukan pemetaan dan koordinasi lebih lanjut terkait opsi tersebut,” imbuhnya.

Meski demikian, warga menilai langkah yang disampaikan pengembang belum cukup menjawab persoalan utama. Mereka berharap RDP tersebut tidak berhenti pada janji, melainkan menghasilkan solusi konkret dan berkelanjutan.

Sekretaris Komisi C DPRD Jember, David Handoko Seto, menegaskan bahwa RDP tersebut bukan pertemuan terakhir.

“Kami akan menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk membahas lebih detail dan mencari solusi terbaik bagi semua pihak,” pungkasnya.

Editor :