KLIKJATIM.Com | Gresik - Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik menggelar workshop integrasi layanan primer untuk mengoptimalkan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Workshop tersebut digelar pada Rabu 11 September 2024, diikuti perwakilan dari Puskesmas dan Pustu serta wartawan.
Baca juga: Dinkes Kota Malang Kejar 95 Persen Imunisasi Campak
Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Gresik dr. Mukhibatul Khusnah mengatakan, Integrasi Layanan Primer di Kabupaten Gresik mengedepankan pelayanan sesuai siklus hidup.
Layanan primer terintegrasi bertujuan untuk menyediakan layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial yang terintegrasi dari tahap lahir hingga dewasa, serta di usia lanjut.
Dengan sistem baru ini, warga Gresik dapat mengakses layanan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka pada setiap tahap kehidupan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan.
Layanan primer ini menjadi tonggak masyarakat kelas bawah, mulai dari posyandu hingga di puskesmas. Sejak pencegahan sampai dengan pengobatan.
"Dengan adanya UHC tentu layanan ini akan sangat terintegrasi. Sehingga harapannya bisa bersinergi dengan legislatif, terutama soal pengawalan anggaran," tutur Khusnah.
Dijelaskan, integrasi ini memiliki beberapa fokus, yaitu Menyelaraskan pelayanan kesehatan berdasarkan siklus hidup, Memperluas layanan kesehatan hingga ke tingkat kalurahan dan padukuhan, serta Memperkuat pemantauan wilayah setempat.
“Semoga bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat,” ucap Khusnah.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan masih banyak problem pelayanan kesehatan yang saat ini menjadi tantangan Pemerintah Kabupaten. Ia bersama jajaran sedang fokus menyelesaikan hal tersebut.
Seperti keadaan Pustu yang memprihatinkan tapi tak bisa direhab sebab berada diatas lahan desa, gaji kader kesehatan yang masih kecil, dan lainnya.
“Kehebatan negara maju dalam pelayanan kesehatan adalah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, layanan yang ramah dan cepat, peningkatan kapasitas SDM perawat. Ini yang perlu kita contoh dan benahi,” tuturnya.
Baca juga: Petugas Damkar Keracunan Asap, Fraksi PPP DPRD Jember Desak Kolaborasi Dinkes dan Damkarmat
Bupati Gresik yang kerap disapa Gus Yani itu juga meminta kepada Dinkes maupun Puskesmas agar memikirkan layanan konsultasi kesehatan dengan jarak jauh berbasis teknologi. Hal ini dianggap sangat inovatif untuk mengurangi antrean di Puskesmas saat berobat.
Baca juga: Dinkes Gresik Minta Masyarakat Waspadai Penyebaran Covid Saat Libur Nataru“Mungkin bisa kita coba, nanti honor pelayanannya diambilkan dari dana kapitasi. Tapi tidak harus semua wilayah, karena karakteristik masyarakat kita berbeda. Mungkin bisa dicoba di kota dulu,” pungkasnya.
Kabid Layanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Pemkab Gresik dr. Setyo Susilo menyampaikan, dalam penerapan Integrasi Layanan Primer, yang penting dilakukan adalah transformasi layanan kesehatan.
Dia menjelaskan, layanan kesehatan primer ada karena kasus kematian di Indonesia sebenarnya dapat dicegah atau dicegah sebagian. Karena itu struktur dan jejaring pelayanan kesehatan primer harus diintegrasikan.
Setidaknya ada enam pilar transformasi layanan kesehatan untuk mewujudkan layanan primer kesehatan yang terintegrasi.
"Meliputi transformasi Layanan Primer, Layanan Rujukan, Sistem Ketahanan Kesehatan, Sistem Pembiayaan Kesehatan, SDM Kesehatan, dan Teknologi Kesehatan," beber Setyo.
Khusus integrasi layanan kesehatan primer di Puskesmas, akan ada lima klaster, yakni klaster manajemen, klaster ibu dan anak, klaster pelayanan penyakit menular, klaster lintas klaster (laboratorium, gizi dan sebagainya).
Baca juga: Antisipasi Penyebaran Super Flu, Dinkes Bojonegoro Anjurkan Warga Lakukan Vaksinasi Influenza
"Di level desa dan lelurahan, di pos kesehatan desa maupun pustu, dilayani oleh bidan, perawat dan dua kader. Kader ini sudah dibekali pengetahuan pengobatan, pemeriksaan, skrining kesehatan, KB dan sebagainya agar pasien tidak menumpuk di Puskesmas. Kemudian Posyandu sudah melayani sesuai siklus hidup sejak ibu hamil dan balita," beber dia.
Adapun fokus transformasi pelayanan kesehatan primer mencakup siklus hidup sebagai fokus integrasi pelayanan kesehatan sekaligus sebagai fokus penguatan promosi pencegahan.
Kemudian mendekatkan layanan kesehatan melalui jejaring hingga tingkat desa dan dusun termasuk untuk memperkuat promosi dan pencegahan serta resiliensi terhadap pandemi.
Lalu memperkuat pemantauan wilayah setempat (PWS) melalui pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan per desa.
Posyandu dan ponkesdes akan melakukan layanan edukasi makanan tambahan, dan ibu nifas, edukasi dan konseling, imunisasi, monitoring pada balita sakit, serta layanan farmasi dan layanan kesehatan.
"Berdasarkan SK Kepala Dinas Kesehatan di Gresik sudah ada 32 Puskesmas yang sudah melakukan integrasi layanan kesehatan primer ini," terang Setyo. (qom)
Editor : Abdul Aziz Qomar