Keliling Pesantren, Bupati Sugiri : Jangan Ada Kekerasan Anak

klikjatim.com
Sugiri Sancoko di Ponpes K.H Syamsuddin Durisawo, Kelurahan Nologaten, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. (ist)

KLIKJATIM.Com | Ponorogo – Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko keliling pesantren. Ini dilakukan demi menciptakan iklim pesantren ramah anak di bumi reog.

Orang nomor satu ini mengaku ingin saling mengingatkan dan melakukan edukasi. Terutama untuk mencegah tindak kekerasan terhadap anak ataupun santri.

Baca juga: Sisihkan Uang Ngudek Kopi di Ponorogo, Wahyudi Akhirnya Berangkat Haji Tahun Ini

“Kita saling mengingatkan agar jangan sampai terjadi kekerasan ke anak apapun (bentuknya). Kita sharing bersama-sama bagaimana merumuskannya,” ujarnya, Kamis (20/10/2022)

Menurutnya, santri harus bisa belajar dengan nyaman. Tanpa rasa takut.

“Kami telah menggandeng sejumlah pihak untuk membentuk iklim pesantren ramah anak tersebut,” kata Kang Giri—sapaan akrab— Sugiri Sancoko di Ponpes KH Syamsuddin Durisawo, Kelurahan Nologaten, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo.

Antara lainnya menggandeng pihak pesantren atau Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI). Lalu, Kemenag hingga kepolisian.

Baca juga: Pulang Ngaji, 2 Bocah Ponorogo Ditemukan Tak Bernyawa di Kubangan

Giri juga memastikan, saat ini hak sehat dan kesejahteraan santri sangat diperhatikan. Contoh protein nabati santri terpenuhi dari tempe dan tahu, serta sayuran. Sedangkan protein hewani juga diberikan secara berkala seperti telur maupun daging ayam.

Hal lain, Kang Giri juga memastikan bahwa para santri tidak hanya terpenuhi hak pendidikannya. Tapi juga terpenuhi hak berkegiatan seni dan budaya.

"Kita tidak saling intervensi nilai. Biarkan berjalan seiring antara santri dan budaya karena masing-masing pesantren punya kultur pakem tersendiri. Inilah kota santri dan budaya," jelas mantan Anggota DPRD Provinsi Jatim ini.

Baca juga: Enam Rumah Warga Banaran Ponorogo Terdampak Longsor

Sementara itu, Kasi Pondok Pesantren Kantor Kementerian Agama Ponorogo, Ayub Ahdiansyam mengatakan ada sejumlah indikator yang bisa menentukan pesantren ramah anak. 

“Tidak adanya diskriminasi santri. Juga terpenuhinya hak perkembangan dan kelangsungan hidup anak, adanya partisipasi aktif mendengarkan suara anak, hingga tidak ada kekerasan terhadap anak,” pungkasnya. (nul)

Editor : Fauzy Ahmad

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru