Pantomim Merebut Ruang Bermain Anak

klikjatim.com

PERJUMPAAN saya beberapa waktu yang lalu dengan Alfan Tomim dan Pinut, pasangan muda dengan satu balita di Jombang, menerbitkan kekaguman.

Sejoli itu tinggal di sebuah rumah tua di pusat kota. Tepatnya di Jalan Agus Salim 9. Halamannya luas dan rindang. Eksotis dengan sauna dari bambu serta pendopo sederhana yang biasa digunakan kegiatan,pertemuan, diskusi dari dan oleh berbagai kalangan.

Baca juga: Katarsis dan Diri Tumbuh: Cara Anak Memproses Luka

Sebuah kedai, di halaman itu, hanya beberapa langkah dari baleho besar samping pintu rumah, menyediakan minuman khas rempah dari Ilalang, jahe, wedang uwuh,teh telang, serta dari berbagai biji-bijian yang disajikan secara ciamik.

Di belakang itu, kursi-kursi yang dibuat antik berderet pada lorong ke belakang. Penataan artistik kafe bernama Rudeka (kependekan dari Rumah Merdeka) itu melengkapi keunikan, eksotisme tersendiri di tengah bertebarannya cafe dan kedai yang menjual  aneka kopi.

Di tangan Alfan dan Pinut, ruangan-ruangan rumah tua itu menjadi tertata apik. Di ruang tamu, misalnya dipajang berbagai karya kerajinan antik, souvenir, buah tangan komunitas yang mereka bangun itu seperti buku, gantungan kunci, cangkir, tas, pakaian sederhana, topi,kaos dan banyak lagi.

Pada salah satu sudutnya, terpampang di dinding yang bergema dari sebuah percikan, yang ditulis oleh Alfan sendiri tentang Rumah Merdeka :

"Rumah Merdeka bak rumah kedua untukku, setelah perjalanan jauh, ketika airmata jatuh, bahkan ketika dunia terasa runtuh, dia dengan hangat memelukku. Bukan sebagai pelarian, tapi seperti kembali pulang. Bukan sebagai pengasingan, tetapi seperti kembali pulang. Bukan sebagai pertapaan, tapi lagi-lagi, seperti kembali pulang."

Anak Sebagai Subjek

Cukup banyak hal yang menumbuhkan kekaguman saya pada sosok pasangan Alfan dan Pinut dengan Rumah Merdeka itu.

Apalagi, sejoli ini mendirikan Rumah Merdeka sebagai rumah bagi komunitas literasi, disabilitas, pantomim, dan komunitas positif dan kreatif  serta pegiat anak-anak di Jombang. Saya terpukau pada kesediaan dan keikhlasannya menjadikan rumah sederhana yang mereka tempati sebagai base camp bagi banyak aktivitas kreatif di kotanya.

Bahkan, membuka diri bagi para penggembara-seniman dari berbagai belahan kota manapun.Utamanya yang betul-betul membetot perhatian saya adalah kesungguhannya yang telaten dan inten pada dunia anak. Pendeknya, sebagai gerakan kepedulian terhadap ruang ekspresi bermain anak-anak.

Sesuatu yang sangat jarang menjadi pusat perhatian, terlebih yang menganggapnya penting. Bukankah kita seringkali abai terhadap kebutuhan anak-anak sebagai generasi pembangun peradaban dunia selanjutnya, yang membutuhkan media vitalnya yaitu ruang bermain? 

Alfan sendiri seniman pantomim yang bergiat sejak dari kota asalnya, Jember. Maka dialah yang juga menginisiasi berdirinya Sekolah Pantomim Nusantara (SPN) salah satu ruang atau kelas belajar pantomim yang berada di Jombang.

Aktif sejak 2018 hingga sekarang dan bernaung di Rumah Merdeka pula. Terang, sebelum berkembang seperti sekarang, begitulah Rumah Merdeka, mulanya adalah jawaban atas pertanyaan Alfan merespon keresahan kurangnya ruang kebebasan berekspresi anak untuk mengembangkan bakat dan mengasah kemampuan potensinya.

Visi pendirian SPN, tak lain di sini anak dijadikan subjek dan bukan objek belajar. Melalui ruang ini anak dilibahkan aktif dalam berdiskusi, mengekplorasi kemampuan menjadi karya bersama. 

Estetika Pantomim

Pentingnya ruang bermain bagi anak oleh karena manusia, tak lain, meminjam istilah Johan Huizinga sebagai Homo Ludens. Bahwa manusia merupakan makhluk bermain. Sejak dalam kandungan, setiap manusia sudah melakukan aktivitas permainan-permainan di dalam rahim ibu; menendang, mendorong dinding rahim dan bergulat dengan tali pusar.

Baca juga: Siswa SMAM 1 Gresik Belajar Bahasa Jepang Bersama Native Speaker

Sehingga saat dewasa pun manusia secara naluri berkeinginan menjaga spirit bermain yang di dalamnya secara sehat menjunjung tinggi kebebasan, keberanian, keriangan, sukarela, percobaan-percobaan dengan aturan bermain yang demokratis. “Bermain lebih tua daripada kebudayaan,” kata Huizinga.

Bagi anak-anak, dunia bermain berhubungan dengan kegiatan yang menyenangkan dan menarik untuk mengembangkan imajinasi, mengolah kreativitas, memahami, mengasah kognisi-intuasi, menumbuhkan kemampuan memecahkan masalah, juga meningkatkan keterampilan sosial mereka. 

Saat ini ruang bermain bagi anak memliki interaksi terbatas. Gadget dan dunia virtual yang serba instan membatasi gerak anak. Banyak permainan modern yang menyeret mereka ke ruang gelap hedonis, tindakan sadis dan dampak negatif yang semakin terpampang.

Maka, jelas salah satu alternatif ruang bermain yang representafif adalah seni pertunjukan pantomim anak. Pantomim adalah pertunjukan dengan menggunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah sebagai dialognya.

Pendeknya, seni teater yang menggunakan tubuh sebagai media utama bahasa, simbol, dan tanda. Gerakan pantomim dilakukan sebagai penggambaran sebuah peristiwa yang seakan benar-benar sedang terjadi, sekalipun bersifat lucu serta menghibur dengan gerakannya yang tak jarang; komikal.  Kredo, sebagai kekuatannya gerakan pantomim imitatif atau gerakan pantomimus (peniruan). 

Estetika pantomim yang demikian, tentu pilihan yang tepat dan menarik bagi anak—yang membutuhkan banyak pengetahuan bahasa sebagai sarana mengembangkan imajinasi, kreativitas, persepsi dan intuisi dalam membangun pengalaman dan realistas hidup sehari-hari. Anak diajari memahami diri sendiri, mengembangkan kepercayaan diri, melatih mental, motorik dan daya analisa serta nalar. Dengan kata lain, pantomim boleh jadi menjadi teater anak yang paling memungkinkan guna memperjelas visi dunia batin dan mental anak di ranah estetika.

Pada titik inilah, gagasan-gagasan Alfan bekerja dan berbiak. Dari penuturannya, SPN ini telah menggelar pertunjukan dan mini workshop ke berbagai daerah lebih dari 250 tempat, tersebar di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Diantaranya; kemah pantomim dan pertunjukan untuk anak tuna rungu dan wicara, workshop guru dan siswa yang berkerjasama dengan dinas terkait—termasuk dengan dinas pendidikan dan kebudayaan setempat, menjadi agenda bagi sanggar ini.

Meski bernaung di Rumah Merdeka sejak 2018, sebetulnya Alfan Tomim--yang berbekal kegembiraan—berkenalan dengan kerelawanan perduli anak telah mengawalinya sejak 2009. “Sanggar kami rutin terbuka untuk umum setiap hari Jumat jam 15.00-17.00 WIB, dan setiap 3 bulan sekali mengadakan aktifitas pentas aplikasi yang dikonsep anak-anak sendiri,” ungkap Alfan. 

Baca juga: Pantomim Merebut Ruang Bermain Anak

Kesadaran Kebudayaan

Terus terang, gerakan Rumah Merdeka, terkait perhatiannya pada dunia anak membuat saya melakukan refleksi diri. Betapa maha besar pentingnya semangat untuk memerdekaan dunia anak-anak, bahwa setiap yang dewasa, yang konon kunci peggerak budaya dan peradaban ini, pernah menjadi anak-anak. Sementara kodrat anak adalah menjadi dewasa, dan dewasa mengandung arti seumur dengan dunia bermainnya.

Komunitas kecil di rumah sederhana, telah menunjukkan gerakan kecil untuk sesuatu yang besar. Alfan dan komunitas Rumah Merdeka bergiat secara sederhana setiap minggu secara konsisten,  berkeliling ke berbagai tempat ke rumah baca, rumah singgah penyintas bencana dengan membawa pertunjukan pantomim, dongeng, karya dan ice breaking. 

Barangkali komunitas ini tak pernah berpikir besar mengenai suatu hal, atau bermaksud besar memberi sumbangan makna bagi kebudayaan dan peradaban, terlebih dengan memberikan konsep, garis besar, ukuran dan sejenisnya.

Bagi saya, yang terpenting dalam memaknai gerakan kebudayaan adalah spirit terus belajar membaca, menulis, bergiat dan bergulat dengan keseluruhan teks hingga menghasilkan karya. Bukan demi media atau melambungkan nama-nama besar, tanpa makna. 

Rumah Merdeka saya lihat selama ini sangat liat, jungkir balik mengupgrade pengetahuan dari ketidaklelahan membaca (tanda-tanda zaman), menentukan pekerjaan rumah untuk ilmu yang terus dipelajari, menjaga setiap kemungkinan dalam berbagi dan mengembangkan gerakan sekecil apapun. 

Membantu setiap orang yang datang, membawa timba untuk diisi apa yang dimilikinya. Beramal kebaikan sebagai pribadi manusia yang rendah hati, yang hampir langka dimiliki seniman, utamanya yang berdiri di bawah jargon besar kebudayaan. 

Kesadaran semacam Rumah Merdeka, meski kecil, bukankah itu lebih besar dari hanya sebuah karya fenomenal? Rumah Merdeka telah menawarkan spirit dalam melakukan gerakan untuk memerdekaan dunia anak-anak, bukan memperjuangkan sekadar karya besar yang muncul sesaat kemudian menghilang ditelan arus. Apalagi sekadar berkarya banyak, hanya untuk menerima job workshop dimana mana. Bukan.

Sesungguhnya Alfan, Rumah Merdeka, sedang merebut kebebasan, ruang ekspresi serta kesadaran pada kebudayaan dan peradaban bagi banyak orang sejak sedini mungkin. (ris)

Editor : Redaksi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru