klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Katarsis dan Diri Tumbuh: Cara Anak Memproses Luka

avatar Wahyudi
  • URL berhasil dicopy

AKU menulis ini dengan satu pertanyaan yang belum selesai: apakah mereka sedang meniru caraku, atau justru menemukan caranya sendiri?

Sejak lama, aku memilih menulis sebagai jalan pulang ke dalam diri. Kata-kata memberiku jarak cukup dekat untuk merasakan dan agar tidak tenggelam. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai expressive writing, cara memproses emosi dengan memberi bentuk pada pengalaman batin. 

Aku mulai melihat anak-anakku.
Tiga tangan putri bekerja diam-diam di rumah ini. Tidak berisik. Pun tidak  meminta dipahami.  Namun meninggalkan jejak yang jelas: mereka bertumbuh dengan cara masing-masing.

Satu memilih tokoh One Piece. Dunia yang percaya pada kebebasan, keunikan, keberanian melawan batas. Dari sana ia belajar tertawa. Bukan karena hidup ringan, tetapi karena menolak tunduk sepenuhnya pada tekanan. Dalam psikologi, ini menyerupai adaptive defense cara jiwa menjaga diri tetap lentur tanpa menyangkal kenyataan.

Yang satu lagi duduk lebih lama di depan kanvas kecilnya. Tidak terbiasa memegang kuas tapi tetap khusuk mengikuti angka. Menaruh warna satu per satu. Seolah meminjam keteraturan saat batin berantakan. Beberapa kali berhenti. Menatap. Kembali.
Di situ aku tahu: ia tidak sekadar mewarnai.

Lukisan itu selesai, perempuan kecil dengan kupu-kupu dan bunga. Tidak langsung lega. Ada jeda panjang. Lalu satu kata muncul: marah. Bukan yang meledak, lama tertahan. Tak sempat dikenali.
Dalam psikologi, momen ini disebut labeling emotion. Saat emosi diberi nama, intensitas mulai turun. Pikiran bergerak dari reaksi menuju pemahaman.

Sejak lama, Aristotle menyebut pelepasan ini sebagai catharsis. Dalam pendekatan modern, bagian dari emotional processing: memberi bentuk pada yang sebelumnya tak terucap.

Di belakang semua itu, bunga-bunga kering tersimpan. Tidak lagi segar. Tidak dibuang tapi disusun kembali sebagai ingatan harapan.

Putriku yang lain tengah menggarap lukisan seekor kucing yang belum selesai. Garis mata tegas. Sebagian wajah muncul. Tubuh masih menyisakan angka-angka. Berhenti di tengah. Tidak gagal. Belum dilanjutkan.

Aku melihatnya sebagai fase lain: jeda. Dalam psikologi, ini disebut in-between state. Ruang antara. Belum kembali utuh. Tidak lagi runtuh.
Keadaan tanpa kepastian. Di situ proses sunyi bekerja: pikiran menyusun ulang. Emosi mencari bentuk. Diri menata ulang dirinya sendiri.
Anakku tidak terburu-buru menyelesaikannya. Bagiku, tanda ia mulai mengenali ritmenya sendiri.

Pertanyaan di awal bergeser. Bukan tentang meniru. Dalam Developmental Psychology, anak belajar dari orang tua bukan hanya dari ajaran, tetapi dari laku hidup.

Mereka menangkap pola yang sama, yakni diantara penatnya bekerja dan menghadapi hidup yang tidak ideal, mereka mengolahnya untuk bertahan.
Aku menulis.
Mereka mewarnai, menyusun, menghidupkan kembali.
Arah sama: mencari jalan keluar dari dalam diri.
Cara berbeda.
Di situlah mereka menjadi dirinya.

Seperti yang dikatakan salah satu dari mereka kepadaku lewat tulisan di Whattsapp :

“Aku suka meromantisasi semua hal yang aku rasakan. Termasuk luka.
Ada bagian dari diriku yang berubah saat rentetan peristiwa menghantamku selama setahun lebih. Seperti menara yang runtuh,csemua yang aku bangun, upayakan, dan punya, roboh dalam waktu singkat.

Semuanya datang begitu cepat hingga aku tak sempat menelaah. Bahkan untuk menengok diriku sendiri pun, aku tidak punya waktu.

Aku hanya terus bertahan.
Saat semuanya mulai surut, aku mencoba melihat diriku lagi. Aku masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tahu, sudah berbeda. Rasanya aneh. Seperti bukan diriku.

Malam itu, aku memutuskan membeli media untuk melukis ini. Aku tidak mahir memegang kuas. Bukan orang yang hobi melukis. Sisa-sisa perkuliahan masih membekas, tentang katarsis.
Aku berharap ini menjadi medianya. 

Media sederhana. Mengikuti angka. Memberi warna.
Aku memilih lukisan seorang wanita kecil yang dikelilingi kupu-kupu dan bunga. Sosok terasa familiar.

Aku mulai memoles warna demi warna. Tidak mudah menuntaskannya. Setiap berhadapan dengannya, selalu merasa emosional.

Akhirnya lukisan ini selesai. Aku memandanginya lega, sekaligus campur aduk.
Di situlah aku menyadari sesuatu.

Yang terasa aneh ternyata emosi yang menumpuk. Sebagian berupa kemarahan. Tertahan. Belum sempat dihadapi. Selama ini diabaikan.

Kuselipkan harapan kecil pada lukisan ini, setelah mengenali emosi itu, aku bisa kembali merekah, seperti wanita dalam lukisan.”

Editor :