KLIKJATIM.Com | Surabaya - Kendati Jatim menjadi penghasil padi terbesar di Indonesia dengan total 9.91 juta ton GKG, namun nyatanya masih ada sejumlah persoalan di sektor pertanian.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, produksi padi di Jatim sebagian besar masih menjadi beras medium, belum premium. Sebab, kandungan air dalam beras yang masih tinggi.
Baca juga: Hadiri Wisuda 866 Santri Tahfidz, Khofifah Tekankan Pentingnya Menjaga Hafalan dan Budaya Literasi
Tidak hanya itu, menurut Khofifah, masih banyak juga gapoktan yang belum memiliki dryer. "Ketika kandungan air tinggi kemudian dia diproses menggunakan penggilingan biasa maka berasnya remuk. Jadi kita butuh dryer dan RMU untuk jadi beras premium," ujar Khofifah, Rabu (2/2/2022).
Khofifah menyebut, hal penting yang harus diperhatikan adalah soal hilirisasi produk pertanian. Mengingat UMKM adalah backbone ekonomi Jatim. Untuk itu, ia meminta pelaku UMKM terutama dari sektor pertanian terus melakukan transformasi digital.
Baca juga: Sport Tourism Jatim Bergeliat, Kejurnas Tenis MA RI Hadirkan 1.022 Atlet dari Seluruh Indonesia
"Apalagi Jack Ma, Founder Alibaba, menyatakan bahwa pada tahun 2030 UMKM di dunia 99 persen will be online, 85 persen will be e-commerce. Artinya, transformasi digital itu adalah sebuah kebutuhan, sebuah keniscayaan," ungkapnya.
Sekedar informasi, tahun 2021, berdasarkan Angka Sementara produksi padi yang dirilis BPS, Jatim menduduki peringat pertama penghasil padi terbesar di Indonesia dengan total 9.91 juta ton GKG.
Baca juga: Khofifah Dorong Alumni FH UNAIR Perkuat Kolaborasi dan Mentoring Mahasiswa
Sementara pada 2020 lalu, Jatim juga menduduki peringat pertama penghasil padi terbesar di Indonesia dengan total 9.94 juta ton GKG dari luas panen sebesar 1.75 juta Ha. (bro)
Editor : Redaksi