Toyota Land Cruiser FJ 40, Kepingan Sejarah Otomotif Indonesia yang Diburu Kolektor

klikjatim.com
Cak Mad, menunjukkan mesin hard top tahun 165 miliknya. Satria Nugraha – klikjatim.com

KLIKJATIM.Com I Sidoarjo – Gagah, kokoh, kekar dan sangar. Itulah kesan terhadap Toyota Land Cruiser seri FJ40 atau yang dikenal dengan Toyota Hard Top. Saat ini, mobil off road buatan Jepang ini gampang dijumpai di tempat wisata seperti di kawasan Bromo.

[irp]

Baca juga: Gubernur Khofifah Resmikan Enam Fasilitas SMAN Taruna Nala dan Beri Penghargaan Siswa Berprestasi Internasional

Mobil ‘perang’ ini juga diburu para kolektor mobil klasik.  Harganya pun bisa mencapai ratusan juta.

Salah satu ahli restorasi Toyota Hardtop di Sidoarjo adalah Ahmad Suparlan (52), warga Desa Kenongo, Kecamatan Tulangan. Ia mengatakan, kini hardtop diburu para kolektor mobil klasik. Khususnya yang masih orisinil, full standart. Harganya bisa tembus di kisaran Rp 350 juta. “Selain tingkat orisinalitas, yang membuat mobil ini berharga sangat mahal adalah sejarahnya. Itu yang tidak ternilai. Mobil ini dulunya adalah mobil perang. Dipakai militer di banyak negara termasuk Indonesia,” beber Cak Mad, panggilan akrabnya, Sabtu (2/10/2021) siang.

Di bengkelnya, bapak satu anak ini menunjukkan empat buah hardtop. Salah satunya adalah hardtop produksi tahun 1965 warna hijau. Ia lalu menaiki dan menstarternya. “Tingkat orisinalitas yang ini sekitar 90 persen. Saya lepas Rp 250 juta. Ini mobil Cakrabirawa,” tuturnya.

Cak Mad lalu menunjukkan beberapa bagian mobil yang masih orisinil seperti engsel pintu, lampu, logo dan spidometer. Spion mobil ini berbentuk kotak dan kacanya cembung. Tidak multi focus seperti kaca mobil modern. Ia juga menunjukkan sasis dan per daun yang terlihat masih kokoh.

Baca juga: Sambut HUT Ke-45, Hotel Santika Gresik Tebar Promo Menginap Hemat hingga 45 Persen

Ia kemudian membuka kap mesin dan menerangkan apa yang ada di dalamnya. “Mesin ini masih asli 4 ribu cc dengan 6 silinder. Ini mobil champ nya menghadap bawah untuk menggerakkan katup dibawahnya. Tidak seperti mobil sekarang champ nya di ats,” bebernya.

Meskipun transminsi mobil ini hanya ada tiga speed, namun bisa ‘lari’ 100 km/jam lebih. “Pernah saya bawa ke Ngawi lewat tol. Di atas 100 masih anteng dan enteng,” kata dia. Saat ditanya berapa bahan bakar yang dihabiskan ke Ngawi pulang pergi ? “Sekitar satu juta,” katanya diselingi tawa.

Saat ini, ratusan hartop hasil restorasi Cak Mad banyak berseliweran di kawasan wisata Bromo dan sekitarnya. “Biasanya yang digunakan di tempat wisata sudah mengalami modifikasi, khususnya mesin. Yang telah diganti mesin mobil lain seperti Kijang,” ujar bapak satu anak ini.

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan Wisatawan, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pemandu Wisata Gunung di NTB

Menurutnya, selain tenaga yang gahar, hartop juga mempunyai daya angkut penumpang yang banyak. “Depan bisa diisi tiga penumpang. Sedangkan belakang bisa muat empat atau kalau dipaksa bisa enam penumpang,” imbuhnya. (rtn)

Editor : Satria Nugraha

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru