Wisuda Drive Thru UIN Satu Tulungagung Didatangi Petugas Berbaju Hazmat dan Ambulance, Ini Yang Terjadi

klikjatim.com
Kelvin saat mengikuti wisuda drive thru. (ist)

KLIKJATIM.Com | Tulungagung - Kejadian unik tampak dalam wisuda drive thru yang digelar UIN Satu Tulungagung pada Senin (28/6/2021) kemarin. Pasalnya ada salah satu mahasiswa pascasarjana UIN Satu Tulungagung yang mengikuti wisuda drive thru datang ke lokasi wisuda bukan dengan keluarganya. Tapi datang pakai ambulance dengan dikawal pasukan yang menggunakan baju hazmat lengkap saat proses pemindahan tali toga berlangsung.

[irp]

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Safety Riding dan Bangkitkan Semangat Pelajar, MPM Honda Jatim Gelar School Roadshow

Dia adalah Mohammad Kelvin Nasrullah (25). Peristiwa yang dialami Mahasiswa Pascasarjana jurusan Aqidah dan Filsafat Islam ini sontak menarik perhatian peserta wisuda drive thru, bahkan sempat viral.

Usut punya usut, rupanya Kelvin bukan terkonfirmasi Covid-19 yang harus menjalani pengawasan oleh pasukan dengan baju hazmat lengkap. Tetapi Kelvin merupakan salah satu relawan tanggap bencana yang sejak setahun lalu terlibat untuk memberikan dukungan psikososial bagi terkonfirmasi Covid-19 yang dikarantina di Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) UIN Satu Tulungagung.

Dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kelvin mengaku bahwa aksi tersebut merupakan salah satu wujud apresiasi dan ucapan terima kasih dari pengelola RSDC UIN Satu Tulungagung kepada dirinya dan tim.

"Ini apresiasi mas, dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kedungwaru yang sehari hari bertanggung jawab di RSDC UIN Satu. Mereka mengapresiasi karena selama menjadi relawan ini kita bersama teman-teman tetap berjuang untuk menyelesaikan tesis kami," ujarnya.

Dirinya mengaku tidak merencanakan aksi tersebut. Namun pengelola RSDC malah mendukung dan memberikan izin agar ambulance yang biasanya disiagakan di RSDC, dimanfaatkan sebentar untuk mengantarkannya masuk ke pintu gerbang kampus, serta 3 orang dengan APD lengkap hingga ke prosesi pemindahan tali toga.

"Ada 3 orang yang pakai APD, satu nya yang mengemudikan ambulance, satu yang memfoto dan satunya yang mendampingi saya tadi. Terus, itu ambulancenya yang sehari hari kita pakai untuk antar jemput terkonfirmasi Covid-19 tapi tadi sebelum digunakan sudah disterilkan," jelasnya.

Baca juga: Bawa Semangat Sportivitas, Honda DBL 2026 East Java – South Resmi Bergulir Jadi Wadah Potensi Pelajar di Malang

Kelvin mengatakan, sejak Rusun Mahasiswa UIN Satu ditetapkan sebagai lokasi karantina di awal pandemi tahun lalu, dirinya langsung tergabung bersama relawan lainnya untuk menjadi bagian dari Tim Dukungan Psikososial (TDP). Pilihan menjadi relawan diambilnya, walaupun di saat yang bersamaan dirinya harus menyelesaikan tesis untuk mendapatkan gelar S2 yang telah diimpikannya.

"Karena diajak teman untuk gabung menjadi relawan, dan karena dukungan mereka juga akhirnya saya mau bergabung walaupun ada tesis yang harus dikerjakan," terangnya.

Butuh waktu lebih kurang 5 bulan bagi Kelvin untuk menyelesaikan tesisnya yang berjudul "Dehumanisasi Dalam Pendidikan (Kritik Filsafat Terhadap Sistem Pendidikan)". Dirinya mengaku harus menyempatkan diri merampungkan tesis di sela-sela tugas piket di lokasi karantina.

"Ngerjaiinya ya pas lepas piket, kan pas piket itu ada teman-teman yang sedang ada di pos, pas selesai piket langsung dikerjakan tesisnya," tutur Kelvin.

Baca juga: Honda DBL 2026 East Java – North Bergulir, MPM Honda Jatim Hadirkan Kompetisi dan Aktivitas Seru untuk Generasi Muda

Kendati rasa lelah dan kondisi pandemi yang tak kunjung selesai, tapi semangatnya semakin meningkat untuk menyelesaikan tesis. Dukungan sesama relawan yang juga sedang menyelesaikan skripsi telah membuat Kelvin kian teguh dan terus berjuang untuk menyelesaikan S2 di tengah aktivitasnya sebagai relawan Covid-19.

"Saya semangatnya karena dukungan teman-teman mas, kemudian saya juga lihat ada 3 teman saya yang sama-sama ngurus skripsi sambil menjalankan tugas sebagai relawan," terangnya.

Usai mendapatkan gelar magister di usianya yang baru 25 tahun, Kelvin mengaku belum tahu akan melangkah kemana? Apakah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, atau lainnya?

"Doakan saja mas, semoga bisa melanjutkan," tutupnya. (nul)

Editor : Iman

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru