Perajin Peti Mati Mojokerto Kewalahan Layani Permintaan RS Pasca Lonjakan Pasien Covid

klikjatim.com
Perajin peti mati di Jalan Trunojoyo Kota Mojokerto sedang menyiapkan pesanan peti dari rumah sakit

KLIKJATIM.Com | Mojokerto - Sejumlah perajin peti mati di Kota Mojokerto kewalahan dan menolak permintaan pesanan sejak sepekan terakhir. Naiknya permintaan peti mati seiring dengan melonjaknya pasien Covid-19 di Kita Mojokerto seta kota lainnya di Jawa Timur.

[irp]

Baca juga: Dapur MBG di Mojokerto Meledak dan Terbakar, 3 Teknisi Gas Alami Luka Bakar Parah

Menurut Purwa (75) perajin peti mati di Jalan Trunojoyo, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, peningkatan permintaan peti mati dia rasakan sejak dua minggu terakhir.  Mereka yang meminta peti mati adalah sejumlah rumah sakit di Kota Mojokerto  dan sekitarnya.

Dijelaskan, permintaan peti mati memilikinya rata rata dipesan dari rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota maupun Kabupaten Mojokerto. Terlebih dalam kurun waktu dua Minggu terakhir kurang lebih dirinya sudah memproduksi 20 lebih peti mati. Dari jumlah tersebut pun, dirinya menuturkan sudah menolak pesanan permintaan peti mati yang datang dari beberapa rumah sakit, lantaran minimnya pekerja maupun bahan juga lokasi tempat produksi yang terbilang cukup sempit.

Baca juga: Kecelakaan Maut Scoopy Vs CB 150 R di Mojokerto, Tiga Orang Tewas

Baca juga: Dihadiri 5.000 Bikers, Jamnas Honda C50 C70 C90 Club Indonesia XXIII di Mojokerto Perkuat Persaudaraan Motor Klasik

“Dalam sehari, minim bisa membuat 1 sampai dua peti mati, itupun melihat dari jumlah pekerja, satu pekerja mampu membuat satu peti mati saja. Kita juga terbatas lokasi sehingga membuatnya juga terbatas,”terangnya.

Selama ini, dirinya mempu menerima pemesanan peti mati dalam jumlah banyak lantaran adanya stok yang sudah disiapkan. Dia menjelaskan, dalam bisni peti mati dirinya tak melulu menonjolkan soal harga meski jumlah permintaan meningkat selama pamdemi, dirinya tak pernah menaikkan harga jual.

Dalam penjualan peti mati, dirinya hanya mematok harga 1 sampai 1,4 juta. Sedangkan peti bayi dijual Rp 600 ribu. “Harga ini sudah sesuai dengan kalkulasi, mulai dari bahan, tukang hingga biaya produksi, kita tak mengambil untung banyak,” kata dia. (ris)

Editor : Tsabit Mantovani

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru