HCML Terus Tingkatkan Produksi Migas di Tengah Pandemi

Reporter : Wahyudi

KLIKJATIM.Com | Sampang - Perusahaan hulu migas Husky-CNOOC Madura Limited (HCML)  konsisten dalam menjamin ketersediaan pasokan gas selama pandemi. Produksi tetap berjalan dengan standar protokol kesehatan yang ketat.

[irp]

Baca juga: Tak Cuma Kejar Produksi, PGN SAKA Dapat Apresiasi DPR Soal Lingkungan

Dalam pengerjaan proyek lapangannya, HCML menerapkan protokol kesehatan dan pemahaman yang sama kepada semua pekerja dan pekerja kontraktor. Mereka selalu berkoordinasi dengan tim HSSE Dept. untuk mendapatkan pantauan medis. ”Semua ini adalah wujud komitmen HCML untuk ikut berkontribusi dalam mengamankan pasokan gas nasional dalam masa sulit ini,” ujar Hamim Tohari, Manager Regional Office HCML.

Baca juga: RATU Umumkan Akuisisi Saham Kontraktor Hulu Migas Selat Madura

Tak hanya tetap berproduksi dengan standar kesehatan yang ketat, HCML pun juga tetap menyalurkan CSR (Corporate Sosial Responsibility) ke sejumlah desa di sekitar wilayah kerja HCML di kawasan Sampang.

Program-program kemasyarakatan ini mencakup bidang-bidang yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat, yaitu ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Hamim mengatakan HCML berkomitmen untuk menjadi mitra pemerintah setempat dalam mengembangkan masyarakat. “Kami akan selalu mendukung kemajuan daerah, terutama pada momentum hari jadi Kabupaten Sampang ke-397,” katanya.

Baca juga: Mahasiswa PMII UPI Sumenep Soroti Mandeknya Pusat Informasi Migas, DPRD Diminta Bertindak Tegas

Dana partisipasi HCML merupakan wujud perhatian dan kepedulian itu. Diharapkan bisa membantu pemerintah Sampang dalam meningkatkan kesejahteraan warga di desa. “Untuk itu, HCML berharap agar dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dapat membantu kelancaran produksi gas bumi HCML di perairan Selat Madura ini,” katanya.

Seperti diketahui, dalam musim tertentu sering terjadi kesalahpahaman antara nelayan dan perusahaan, dimana dalam bulan-bulan tertentu, ada beberapa nelayan yang tetap berkegiatan di dalam radius terbatas dan terlarang di area lapangan migas, padahal hal ini sangat berbahaya bagi kegiatan operasi maupun nelayan apabila terjadi naiknya tekanan gas secara tiba-tiba. “Untuk itu, kedepan kami sangat mengharapkan dukungan dari segenap pemangku kepentingan untuk dapat memberikan pemahaman kepada nelayan terkait hal ini,” ujar Hamim. (hen)

Editor : Wahyudi

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru