KLIKJATIM.Com | Sidoarjo - Lonjakan pasien positif Covid-19 di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian pemerintah pusat. Itu terjadi setelah warga yang terkonfirmasi virus corona meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 1 bulan. Pemerintah pusat meminta Pemprov Jatim dan Pemkab Sidoarjo segera mengambil langkah untuk menekan angka positif tersebut.
[irp]
Hal itu disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Pusatm dr Wiku Adisasmito, kamis (27/8/2020). Dr Wiku mengungkapkan, ada sejumlah daerah yang mengalami peningkatan kasus baru dalam empat pekan terakhir. Salah satunya, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Penambahan kasus positif covid dan angka kematian di Sidoarjo dalam fase puncak. Sedangkan kasus suspek dalam perawatan baru turun sekitar 4 persen dari fase puncak.
Berdasarkan data Satgas Covid-19 Kabupaten Sidoarjo, tanggal 22 Juli 2020 ada 2.763 kasus positif dan 159 orang meninggal dunia. Kemudian, data per tanggal 26 Agustus 2020, tercatat ada 4801 kasus positif dan 299 orang meninggal dunia.
“Sidoarjo yang selama empat minggu tanpa perubahan mohon perhatian ini kondisinya adalah penambahan kasus positifnya masih dalam fase puncak. Penambahan angka kematian dari kasus positif juga masih dalam fase puncak. Ini betul-betul harus ditangani dengan baik, dan kasus suspek dalam perawatan baru turun 4 persen dari fase puncak,” ujarnya.
[irp]
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo dr Syaf Satriawarman tidak menampik jika jumlah pasien Covid di Sidoarjo meningkat sebulan terakhir. Dia menilai, pola masyarakat yang masih belum sepenuhnya taat protokol kesehatan membuat Kota Udang masih belum bisa keluar dari zona merah.
"Makanya Sidoarjo ini agak sulit untuk menerjang masuk ke zona oranye itu, karena ya gini ini mas. Yang bisa saya kendalikan itu hanya di sekitar-sekitar puskesmas. Tapi lainnya sulit minta ampun," ujar dr Syaf.
Menurut dr Syaf, dinas kesehatan dan tim gugus tugas dibantu Polri dan TNI juga sudah semaksimal mungkin melakukan progress protokol kesehatan kepada masyarakat Sidoarjo. "Kami tidak bisa mengerjakan sendiri tanpa dukungan dari Polri, TNI, forkopimda daerah seperti kecamatan dan lain sebagainya," tambahnya.
Meski imbauan dan operasi penindakan terhadap pelanggaran protokol kesehatan terus menerus dilakukan, tapi menurut dr Syaf, masih banyak masyarakat yang bandel dengan kumpul-kumpul. "Ya untuk apa ada desa tangguh, tapi apa-apa masih kumpul kayak gitu. Kan jadi percuma. Ya seharusnya mereka sudah paham betul," paparnya.
Ditambahkan, pihaknya akan memperbaiki data dan akan melaporkan ke pusat agar Sidoarjo segera masuk ke zona oranye. "Masih merah kita (Sidoarjo) sama Surabaya sekarang jadi merah. Tapi kita sedang memperbaiki data dan akan kita laporkan ke pusat. Mudah-mudahan segera jadi oranye," sambung dr Syaf. (hen)
Editor : Satria Nugraha