KLIKJATIM.Com | Gresik--Warganet di Kabupaten Gresik dibuat heboh dengan cuitan akun Twitter @Anisahsafitriii. Akun tersebut mencuitkan tulisan jualan nasi bungkus untuk menutup kekurangan biaya daftar ulang masuk SMA.
Di cuitannya, @Anisahsafitriii mengaku terpaksa berjualan nasi bungkus seharga Rp 8.000 untuk melunasi biaya daftar ulang di SMA. Dicuitannya itu, akun yang masih belum diketahui pemilik aslinya itu mencantumkan screenshot pengumuman hasil PPDB Jatim tahun 2020. Dalam gambar itu juga dicantumkan akun @Anisahsafitriii diterima masuk di SMA Negeri 1 Gresik.
[irp]
Cuitannya tersebut telah diretwit (ditwit ulang) sebanyak 4.697 kali dengan beragam respon dari warganet. Ada yang simpati ada pula yang curiga sebagai modus untuk tujuan tertentu.
Akun @zanisetyo misalnya mempertanyakan twitnya karena biaya sekolah sudah disubsidi pemerintah melalui berbagai program. "Lho bukannya sekolah negeri tidak boleh ada pungutan? Ada BOS + BOPDA , mhn koreksi jika salah," tulisnya.
Selain itu, banyak pula warganet yang menyatakan simpati dengan persoalan yang tengah dialami Anisahsafitriii.
Saat ditelusuri oleh klikjatim.com dengan menghubungi akun @Anisahsafitrii tersebut melalui pesan langsung Twitter atau direct message (DM) untuk mengkonfirmasi kebenaran cuitannya tersebut. Namun, sampai berita ini ditulis tidak dijawab, dan akun beralih ke privasi atau akun digembok.
Sementara itu, wakil kepala sekolah Bagian hubungan masyarakat (Humas) SMA Negeri 1 Gresik Abdul Mukti menyatakan siswa baru atas nama Anisahsafitriii tidak ada. Bahkan, ia mengaku menerima banyak pertanyaan dari masyarakat dan alumni mengenai persoalan ini.
[irp]
"Banyak yang menghubungi saya sejak tadi mengenai persoalan ini. Dan saya pastikan informasi yang disampaikan @Anisahsafitriii di Twitter tersebut tidak benar," tegasnya.
Dikatakan Mukti, untuk biaya daftar ulang diperuntukkan pengadaan seragam sekolah melalui koperasi sekolah yang sifatnya tidak wajib, tergantung kemampuan wali murid.
"Kita tidak memaksa. Semua tergantung kemampuan wali murid. Apalagi saat ini sedang pandemi corona," pungkasnya. (mkr)
Editor : Redaksi