KLIKJATIM.Com | Gresik - Dengan lolosnya satu pasien positif corona ke Pulau Bawean yang sempat menyita perhatian sejumlah kalangan telah memunculkan beragam dugaan. Pasalnya di tengah pengetatan setiap calon penumpang sebelum menyeberang ke pulau terluar Kabupaten Gresik dengan mewajibkan rapid tes, ternyata masih saja kecolongan.
Apalagi hal tersebut disusul beredarnya dugaan jual beli hasil rapid tes sebagai syarat untuk lolos masuk ke Pulau Bawean. Kabar ini juga dibenarkan oleh salah satu tokoh Bawean, Sariful Mizan.
[irp]
"Saya mendapatkan informasi dari teman yang ada di Jawa (Gresik Kota, red), katanya bisa kalau mau membeli hasil rapid tes," ujarnya kepada klikjatim.com.
Menurutnya, indikasi jual beli hasil rapid tes tersebut tanpa dilakukan pengujian secara medis. Pemohon tidak diambil darahnya, tapi bisa mendapatkan hasil sesuai yang diinginkan.
"Hanya setor nama bisa dapat surat rapid tes. Kata teman saya sudah ada yang mengkoordinir," lanjutnya.
Dia berharap terkait indikasi jual beli hasil rapid tes ini harus ditindaklanjuti. Karena jika memang benar ada praktik demikian, maka sangat membahayakan sekali.
[irp]
Seperti diketahui, sebelum ada satu warga Bawean terkonfirmasi positif Covid-19 sejatinya sempat terdeteksi reaktif hasil rapid tesnya. Peristiwa ini terjadi bersamaan momen mudik lebaran hari raya idul fitri, tepatnya pada tanggal 16 Mei 2020.
Pasien positif ini melakukan rapid tes di Puskesmas Alun-alun bersama 18 orang lainnya dengan hasil reaktif. Hanya dua orang dari 19 orang di antaranya melakukan swab mandiri dan satu orang dinyatakan positif ketika sudah berada di Pulau Bawean.
Mereka diperbolehkan menyeberang menggunakan kapal pada tanggal 23 Mei, karena 19 orang tersebut rapid tes ulang pada tanggal 19 Mei. Hasilnya pun mengejutkan. Mereka yang awalnya reaktif ternyata hasil rapid tes kedua berubah non-reaktif semua (19 orang), hanya dengan selisih tiga hari.
[irp]
Terpisah, Kepala Puskesmas Alun-alun, drg. Anisah Machmudah saat dikonfirmasi membantah di instansinya terjadi jual beli hasil rapid tes untuk calon penumpang kapal ke Bawean. Katanya, semua pemohon rapid tes dilakukan sesuai prosedur melalui pemeriksaan medis.
"Dan itu gratis. Kami mengajukan alatnya ke Dinas Kesehatan (Dinkes) sesuai kebutuhan. Kemudian untuk mempermudah agar tidak berkerumun, maka biasanya ada yang mengkoordinir yaitu perwakilan dari orang Bawean sendiri," jelasnya. (nul)
Editor : Redaksi