klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Gubernur Khofifah Jelaskan Soal Mobil PCR yang Sebabkan Risma Marah

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa bersama sejumlah kepala daerah dalam sebuah kesempatan.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa bersama sejumlah kepala daerah dalam sebuah kesempatan.

KLIKJATIM.Com | Surabaya—Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa angkat bicara terkait polemik mobil laboratorium PCR (polymerase chain reaction) yang menyebabkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini marah besar.

Khofifah menjelaskan,  di Surabaya memiliki tujuh laboratorium besar untuk melakukan tes swab. Meski di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga sedang gangguan tak bisa melakukan tes, enam laboratorium sisanya yakni di RSU dr Soetomo, RS Premier Surabaya, RS National Hospital, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, dan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya masih bisa melakukan tes swab.

[irp]

Menurutnya jika keenam laboratorium yang masih bisa beroperasi bisa dimaksimalkan, maka sebetulnya bisa membantu penanganan Covid-19 di Surabaya.

"Jadi kalau ini dimaksimalkan sesungguhnya ini akan bisa memberikan percepatan konfirmasi dari spesimen yang di PCR tes," kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, mobil laboraturium PCR dioperasikan di luar Surabaya pada 29 Mei 2020 tersebut lantaran banyaknya kasus PDP yang meninggal sebelum dilakukan tes swab. Di mana menurut data, di Tulungagung tercatat ada sebanyak 593 orang. Jumlah tersebut terbanyak kedua setelah Surabaya.

"Angka kematian PDP di daerah tersebut sebanyak 175 orang. Itu sudah meninggal tapi belum sempat dites, keburu meninggal," ujar Khofifah saat konferensi pers di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (30/5/2020) malam.

Sementara untuk Sidoarjo, hanya memiliki kapasitas tes swab atau PCR sebanyak 16 spesimen per harinya. Sedangkan jumlah pasien positif di wilayah tersebut terbanyak kedua setelah Surabaya dengan total kumulatif 632 orang.

"Pasti sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk memberikan percepatan penanganan Covid-19," katanya.

Sementara untuk daerah Lamongan, Khofifah menyebut daerah itu hanya memiliki alat tes berupa Tes Cepat Molekuler (TCM) yang setiap harinya hanya bisa melakukan tes sebanyak 12 spesimen.

"Pasti sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk memberikan percepatan penanganan Covid-19," Khofifah menerangkan.

Sebelumnya, terjadi kisruh berebut mobil tes PCR covid-19 antara Pemkot Surabaya dengan Pemprov Jatim. Bahkan nama Tri Rismaharini masuk dalam jajaran trending topic Twitter pada Jumat (29/5) malam.

Hal itu bermula saat Risma meradang lantaran dua unit mobil tes dengan metode PCR dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dialihkan ke dua wilayah lain, oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim.

[irp]

Risma menilai mobil tes PCR dari BNPB awalnya akan dipakai oleh warga Kota Surabaya. Namun hingga masyarakat berkumpul, mobil tak kunjung datang.

Mobil itu kemudian diketahui digeser ke Tulungagung dan Lamongan oleh Gugus Tugas Jawa Timur yang berada di bawah naungan Pemprov Jatim.

"Teman-teman lihat sendiri kan, ini bukti permohonan saya dengan Pak Doni, jadi ini saya sendiri yang memohon kepada beliau. Kasihan pasien-pasien yang sudah menunggu," kata Risma sambil menunjukkan percakapan dengan Doni kepada media di Surabaya, Jumat (29/5). (mkr)

Editor :