KLIKJATIM.Com | Jember -Pengendara yang melintas di jalur Gumitir, Kabupaten Jember, Jawa Timur, diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul ditemukannya retakan ringan sepanjang sekitar 30 meter (sebelumnya ditulis 40 meter), di badan jalan serta gerusan tanah pada bahu jalan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan, terutama ketika hujan turun.
Pemerintah bersama sejumlah instansi terkait membahas langkah penanganan kondisi tersebut dalam rapat koordinasi di Aula Pusdalops BPBD Jember, Kamis (8/10/2026). Rapat itu melibatkan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali, Satlantas Polres Jember, Dinas Perhubungan Jember, DPUPR Jember, Perum Perhutani, serta Forkopimcam Silo.
Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, kondisi retakan diketahui setelah tim gabungan melakukan survei lapangan pada Senin (5/10/2026), menyusul informasi dari masyarakat.
“Senin yang lalu kita sudah ke lapangan, tim dari B2PJN, dari Satlantas kita sudah cek lokasi bersama BPBD. Di sana memang ditemukan ada retakan ringan sepanjang 30 meter dan juga ada gerusan tanah di bahu jalan,” kata Edy seusai rapat.
Sebagai langkah awal, retakan tersebut ditargetkan mulai ditangani pada akhir pekan ini. Penanganan dilakukan dengan mengisi retakan menggunakan sealant, kemudian bagian tersebut ditutup menggunakan lapisan tipis aspal.
Langkah itu masih bersifat sementara. Perbaikan permanen akan menunggu hasil kajian serta keputusan lebih lanjut dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBPJN.
Selain retakan, gerusan tanah di bahu jalan juga menjadi perhatian. Sandbag yang telah dipasang sebelumnya akan diperkuat dengan tambahan terpal untuk mengurangi dampak air hujan terhadap tanah di sekitar lokasi.
“Untuk sandbag akan disempurnakan, ditambahi terpal agar kalau sekali-sekali ada hujan itu tidak cepat longsor,” ujar Edy.
Penanganan juga dilakukan terhadap vegetasi di sekitar titik retakan. Pada Sabtu (10/10/2026), tim dijadwalkan melakukan perempesan atau pemangkasan pohon beringin di sekitar lokasi.
Menurut Edy, pohon beringin tetap dipertahankan karena keberadaannya memiliki fungsi dalam membantu menahan kondisi tanah yang miring. Namun, sebagian dahan dan beban pohon perlu dikurangi untuk mengantisipasi tarikan terhadap tanah ketika terjadi angin kencang.
“Disimpulkan dalam rapat hari ini, tidak dipotong pohon beringin tersebut, tapi hanya dirempesi, dikurangi supaya bebannya enggak terlalu berat,” jelasnya.
Untuk penanganan jangka menengah, pemerintah juga menyiapkan program reboisasi yang ditargetkan berlangsung hingga Desember 2026. Program tersebut akan dikoordinasikan bersama unsur kehutanan, termasuk penyediaan bibit tanaman melalui Cabang Dinas Kehutanan.
Jenis tanaman yang dipilih nantinya diupayakan memiliki manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat sekitar, seperti petai dan duku.
“Dari cabang Dinas Kehutanan juga sepakat akan mengirimkan bibit-bibit, apakah itu dalam bentuk tanaman yang bermanfaat seperti petai, terus kemudian kaitan dengan duku, sehingga masyarakat sekitar para petani masih bisa untuk menikmati hasilnya,” kata Edy.
Sementara itu, belum ada keputusan untuk menutup jalur Gumitir selama penanganan awal dilakukan. Pengaturan lalu lintas akan diterapkan secara situasional dengan mempertimbangkan aktivitas pekerjaan dan kondisi keamanan di lokasi.
Jika nantinya perbaikan permanen telah mendapatkan persetujuan Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBPJN, pemerintah akan kembali berkoordinasi mengenai rekayasa lalu lintas, termasuk kemungkinan penutupan sementara jalur tersebut.
“Kalau nanti perbaikannya bersifat permanen, sudah ada lampu hijau dari Kementerian PU untuk B2PJN sini, maka barulah kita akan koordinasi lagi apakah ditutup atau tidak. Sementara masih belum, ini masih sifatnya sementara,” jelas Edy.
Tim gabungan akan kembali memantau kondisi jalur Gumitir saat pelaksanaan perempesan pohon pada Sabtu mendatang. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya agar retakan dan gerusan tanah tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius serta keselamatan pengendara tetap terjaga.
Editor : Wahyudi