klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Lima Tahun Merger Pelindo: Produktivitas Naik, Tantangan Standardisasi Masih Ada

avatar Much Taufiqurachman Wahyudi
  • URL berhasil dicopy
Area pelabuhan Pelindo  Terminal Petikemas
Area pelabuhan Pelindo Terminal Petikemas

KLIKJATIM.Com | Surabaya  - Lima tahun setelah merger, Pelindo mencatat peningkatan produktivitas terminal peti kemas lebih dari 70 persen. Standardisasi proses bisnis, penguatan sumber daya manusia, dan optimalisasi peralatan menjadi bagian utama transformasi pengelolaan terminal.

PT Pelindo Terminal Petikemas menyebut peningkatan produktivitas tersebut turut berdampak pada waktu singgah kapal atau port stay serta waktu barang berada di terminal atau cargo stay.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi yang dilakukan sejak merger Pelindo pada 2021 mulai memberikan dampak terhadap kinerja terminal.

“Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien,” kata Widyaswendra saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, standardisasi menjadi salah satu fondasi utama transformasi. Selain penyelarasan proses dan sistem, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dilakukan agar pengelolaan terminal memiliki standar yang semakin seragam.

Dari 32 terminal yang dikelola, hampir seluruhnya disebut telah menunjukkan perkembangan.

“Karena merger sudah dilakukan sejak 2021, peningkatan kompetensi dan knowledge secara otomatis distandardisasi. Dari total 32 terminal, hampir semua perbaikannya sudah terlihat secara nyata,” katanya.

Peralatan Jadi Bagian Penting Transformasi
Selain sistem dan sumber daya manusia, transformasi juga menyentuh pengelolaan peralatan bongkar muat.

Widyaswendra mengatakan merger membuat Pelindo memiliki ruang yang lebih besar untuk mengoptimalkan aset antar-terminal. Peralatan yang tersedia di satu terminal dapat dialihkan atau dimanfaatkan untuk mendukung terminal lain yang membutuhkan.

“Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan,” jelasnya.

Optimalisasi peralatan tersebut diharapkan ikut meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki port stay dan cargo stay.

“Dampaknya, port stay dan cargo stay menjadi lebih baik,” katanya.

Peningkatan produktivitas terminal juga membuka peluang pengembangan bisnis, termasuk kerja sama antarkorporasi dan pembukaan rute pelayaran baru.

“Dari situ kami melihat banyak peluang, mulai dari pengembangan bisnis dengan kerja sama antarkorporasi sampai pembukaan rute-rute atau service baru. Banyak rute baru yang diperoleh karena produktivitas masing-masing terminal sudah tinggi,” ujar Wendra.

Menurut dia, peningkatan kinerja operasional pada akhirnya diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap ekosistem maritim dan biaya logistik nasional.

“Pada akhirnya ketika terjadi peningkatan produktivitas dan kinerja operasional diharapkan juga memberikan dampak pada biaya operasional kapal. Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,” katanya.

Perusahaan Pelayaran Minta Konsistensi Layanan
Dari sisi pengguna jasa, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto mengatakan perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun terakhir telah dirasakan perusahaan pelayaran.

“Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo,” kata Carmelita saat dihubungi Rabu (30/9/2026).

Namun, menurut dia, pembenahan layanan tetap perlu dilanjutkan, terutama untuk memastikan integrasi dan konsistensi layanan di berbagai wilayah.

“Sampai sekarang Pelindo terus berbenah mengembangkan layanannya untuk lebih terintegrasi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Carmelita menilai kesiapan peralatan bongkar muat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas kapal. Peralatan yang andal dibutuhkan agar waktu kapal di pelabuhan dapat ditekan dan jadwal pelayaran lebih terjaga.

“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.

Dia berharap layanan Pelindo ke depan semakin terintegrasi dan mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

“Yang kami harapkan tentu layanan semakin baik, semakin terintegrasi, dan bisa memberikan kepastian bagi pelaku usaha,” kata Carmelita.

Menurut dia, standardisasi layanan juga penting bagi perusahaan pelayaran karena berkaitan dengan perencanaan operasional kapal.

“Bagi perusahaan pelayaran, kepastian layanan itu penting. Kami membutuhkan pelayanan yang bisa mendukung produktivitas dan kepastian operasional kapal,” ujarnya.

Pelemahan Rupiah Tambah Tekanan Biaya
Di tengah proses pembenahan layanan, industri pelayaran juga menghadapi tekanan biaya akibat pelemahan rupiah. Sejumlah kebutuhan operasional dan perawatan kapal masih berkaitan dengan dolar AS, termasuk suku cadang yang harus diimpor.

“Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar,” kata Carmelita.

Dampaknya, kata dia, tidak hanya dirasakan pada biaya operasional sehari-hari, tetapi juga dalam perencanaan investasi perusahaan.

“Jadi bukan hanya biaya operasional sehari-hari, tetapi juga perencanaan investasi perusahaan ikut terdampak,” ujarnya.

Karena itu, efisiensi dinilai perlu dilakukan secara bersama-sama oleh pelaku usaha dan pemerintah.

“Efisiensi dari sisi pengusaha saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu membantu menjaga agar struktur biaya industri tetap kompetitif,” katanya.

Standardisasi Belum Berarti Seragam
Pengamat supply chain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Raja Oloan Saut Gurning, melihat merger Pelindo telah mendorong perubahan penting dalam standardisasi pengelolaan terminal.

Menurut Saut, penyelarasan proses bisnis, penggunaan Terminal Operating System (TOS), dan indikator kinerja telah dilakukan secara lebih terpusat.

“Standardisasi layanan petikemas Indonesia lima tahun terakhir berada pada jalur yang tepat. Arsitektur proses bisnis, sistem operasi atau TOS, dan indikator kinerja telah terstandarisasi secara terpusat,” kata Saut.

Meski demikian, standardisasi sistem belum otomatis membuat kualitas layanan seluruh terminal menjadi sama. Menurut dia, masih terdapat perbedaan konsistensi layanan antarterminal.

“Namun, konsistensi layanan riil antarterminal belum sepenuhnya tercapai. Yang terjadi saat ini adalah segmented consistency, konsisten di dalam tier masing-masing, tetapi belum homogen secara nasional,” ujarnya.

Perbedaan tersebut tidak terlepas dari karakteristik masing-masing terminal. Kondisi geografis, jenis kapal, ketersediaan peralatan, hingga dukungan wilayah hinterland turut memengaruhi kinerja.

“Terminal di wilayah sungai pasang-surut seperti Musi, Barito, atau Kapuas memiliki tidal window yang membatasi konsistensi kedatangan dan keberangkatan kapal. Ini berbeda dengan pelabuhan laut dalam,” jelasnya.

Karena itu, Saut mengatakan kinerja terminal tidak dapat dilihat hanya dari satu indikator produktivitas.

Tantangan Berikutnya: Keandalan Alat
Selain faktor geografis, perbedaan spesifikasi peralatan juga menjadi tantangan dalam menciptakan layanan yang konsisten.

Saut mencontohkan, penggunaan TOS yang sama belum tentu menghasilkan produktivitas yang sama apabila terminal menggunakan peralatan dengan kemampuan berbeda.

“TOS yang sama jika dijalankan di terminal dengan STS berkecepatan tinggi akan menghasilkan output berbeda dibanding terminal yang hanya mengandalkan HMC tua atau derek kapal,” katanya.

Menurut dia, standardisasi pada tahap berikutnya perlu dibarengi dengan peningkatan equipment availability dan keandalan peralatan.

“Tingkat kesiapan alat atau equipment availability dan mean time between failures di terminal luar Jawa masih belum merata,” ujarnya.

Dengan demikian, lima tahun setelah merger, standardisasi telah menjadi salah satu fondasi utama transformasi Pelindo. Tantangan berikutnya adalah memastikan standar tersebut diterjemahkan menjadi kualitas layanan yang konsisten, didukung peralatan yang andal, serta mampu memberikan kepastian bagi pengguna jasa di berbagai wilayah Indonesia

Editor :