KLIKJATIM.Com | Sidoarjo — Pembelajaran sains (Science) di tingkat sekolah dasar terus didorong agar tidak sekadar berfokus pada penguasaan konsep atau hafalan teoritis semata. Para siswa kini diarahkan untuk lebih aktif mengamati, bertanya, mengeksplorasi, hingga menemukan jawaban secara mandiri melalui proses penyelidikan ilmiah.
Semangat transformasi pembelajaran tersebut diwujudkan melalui pelatihan bertajuk “Building an Inquiry-Based Science Classroom Using MCE Cambridge Primary Science” yang digelar di SD Al Falah Darussalam 2 Sidoarjo, Selasa (15/9/2026).
Pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Mentari ini menghadirkan pakar edukasi asal Filipina, Dr. Domingo Alberto Jr., sebagai pemateri utama. Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran guru bidang studi Science di lingkungan SD Al Falah Darussalam 2 Sidoarjo.
Kepala SD Al Falah Darussalam 2 Sidoarjo, Juniati, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk menggeser paradigma pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered) menjadi pengalaman belajar yang berpusat pada siswa (student-centered).
"Siswa didorong untuk membangun pemahaman melalui proses mengamati, mengajukan pertanyaan, membuat prediksi, melakukan investigasi, menganalisis informasi, hingga mengomunikasikan hasil temuannya," ujar Juniati.
Juniati mengungkapkan, salah satu materi utama yang diperkenalkan dalam pelatihan ini adalah penerapan 5E Learning Model, yang terdiri atas lima tahapan sistematis: Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate.
Tahap Engage digunakan untuk membangun rasa ingin tahu dan menghubungkan materi dengan pengetahuan awal siswa. Pada tahap Explore, siswa diberikan kesempatan melakukan eksplorasi serta investigasi langsung. Selanjutnya, temuan dan pemikiran siswa dikembangkan melalui tahap Explain.
Pada tahap Elaborate, siswa diajak menerapkan konsep yang telah dipahami ke dalam situasi atau permasalahan baru. Rangkaian ini ditutup dengan tahap Evaluate sebagai ruang untuk melihat pemahaman sekaligus merefleksikan proses belajar yang telah dilakukan.
"Model tersebut tidak hanya dipelajari secara teoritis. Para guru juga terlibat langsung dalam berbagai hands-on science activities untuk mempraktikkan keterampilan dasar proses Science, mulai dari observasi, prediksi, pengumpulan informasi, investigasi, analisis hasil, hingga penyusunan kesimpulan," tegas Juniati.
Selain penguasaan metodologi inquiry, pelatihan ini membekali para pendidik untuk mengoptimalkan penggunaan materi MCE Cambridge Primary Science serta fasilitas pendukung dari Marshall Cavendish Education (MCE).
"Sumber belajar tersebut dapat dikembangkan menjadi rangkaian aktivitas berbasis 5E. Dengan demikian, buku tidak hanya menjadi sarana penyampaian materi, tetapi juga dapat digunakan sebagai pijakan bagi siswa untuk mengeksplorasi fenomena, berdiskusi, melakukan penyelidikan, dan membangun konsep berdasarkan pengalaman belajar," imbuhnya.
Selama kegiatan berlangsung, suasana pelatihan berjalan interaktif melalui diskusi, praktik, dan simulasi berbagai aktivitas sains. Para guru mengalami secara langsung bagaimana merancang kegiatan sederhana menjadi pengalaman belajar berbasis inquiry yang kaya makna.
Melalui pelatihan ini, jajaran guru Science SD Al Falah Darussalam 2 diharapkan semakin siap menghadirkan pembelajaran yang aktif. Pendekatan inquiry dan model 5E menjadi strategi utama untuk membuka ruang bagi siswa dalam bertanya, mengeksplorasi, berpikir kritis, serta mengomunikasikan pemahaman mereka secara percaya diri.
Editor : Fatih