KLIKJATIM.Com | Lamongan – Upaya menekan prevalensi stunting terus diperkuat oleh jajaran Puskesmas Sukorame, Kabupaten Lamongan. Melalui terobosan inovatif bernama Kepiting Sukorame (Kelompok Peduli Stunting Sukorame), puskesmas ini mengedepankan sinergi lintas sektor dan lintas program guna menuntaskan masalah gizi anak secara komprehensif.
Kepala Puskesmas Sukorame, dr. Ahmad Zaini Miftah, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa penanganan gizi buruk dan tumbuh kembang anak tidak bisa hanya dipikul oleh sektor kesehatan.
"Persoalan stunting ini bukan semata-mata soal kekurangan asupan gizi, tetapi sangat dipengaruhi oleh infeksi berulang, pola asuh, sanitasi, serta berbagai faktor sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, melalui Kepiting Sukorame, kami mendorong keterlibatan berbagai unsur agar penanganan dilakukan bersama-sama dari hulu ke hilir," ujar dr. Zaini.
Langkah kolaboratif ini terbukti membuahkan hasil yang berkesinambungan. Berdasarkan data bulan timbang di Kecamatan Sukorame, prevalensi stunting menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Jika pada Februari 2019 angka stunting berada di level 14,6 persen, pada Agustus 2019 turun menjadi 10,39 persen (113 balita). Angka tersebut terus menyusut menjadi 10,04 persen pada 2020, 7,89 persen pada 2021, hingga menyentuh 7,37 persen (82 balita) pada Agustus 2022. Angka ini jauh di bawah batas maksimal yang direkomendasikan WHO, yakni 20 persen.
Dalam praktiknya, Kepiting Sukorame menggandeng berbagai instansi pemerintahan dan tokoh lokal. Unsur Muspika (Camat, Kapolsek, dan Danramil) berperan memotivasi komitmen lintas sektor. Dinas Pendidikan turun tangan mengedukasi pola asuh dan penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di lingkungan sekolah. Sementara itu, sektor pertanian mengedukasi warga soal penggunaan pestisida yang tepat.
Di sisi pencegahan pranikah, KUA berkoordinasi untuk memberikan penyuluhan gizi serta imunisasi TT bagi calon pengantin. Tokoh masyarakat dan pemerintah desa juga memegang peran vital.
"Peran tokoh masyarakat sangat krusial, terutama untuk meluruskan mitos-mitos mengenai pantangan makanan bagi ibu hamil yang masih sering berkembang di masyarakat kita," tambah dr. Zaini.
Sejumlah strategi konkret dijalankan secara terukur dalam program Kepiting Sukorame. Strategi tersebut meliputi pembentukan tim stunting, pengerahan kader Jupanting, pendataan balita secara by name by address, pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan bagi balita gizi kurang dan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), serta pemenuhan imunisasi dasar lengkap.
"Tujuan utama inovasi ini adalah memastikan pencegahan stunting dapat dikawal sejak sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, hingga periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dengan kolaborasi yang konsisten, kami ingin memastikan setiap anak di Sukorame memiliki kesempatan tumbuh kembang optimal menjadi SDM yang berkualitas," pungkas dr. Zaini.
Editor : Fatih