KLIKJATIM.Com | Batu -Sebanyak 109.188 hektor lahan hutan di kawasan hulu Bumiaji beralih fungsi menjadi lahan pertanian hortikultura semusim. Alih fungsi ini menjadi pemicu utama tingginya sedimentasi dan banjir luapan Kali Krecek.
Menyikapi hal itu, Wali Kota Batu, Nurochman, menginstruksikan langkah konkret pemulihan fungsi konservasi di kawasan tersebut. Instruksi itu disampaikan dalam pertemuan strategis bersama BPBD dan DPUPR yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Batu.
Wali Kota menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada perbaikan saluran di hilir, tetapi harus menyentuh akar permasalahan di hulu.
Berdasarkan data lapangan, banjir yang melanda kawasan Tulungrejo dan Punten beberapa waktu lalu dipicu oleh alih fungsi lahan hutan seluas 109.188 hektar menjadi lahan pertanian hortikultura semusim.
Tingginya sedimentasi mencapai 97.107 m³ per tahun akibat erosi tanah di lahan miring menjadi faktor utama pendangkalan sungai. Kondisi ini mengancam keselamatan masyarakat dan infrastruktur.
Wali Kota Nurochman menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan petani kehilangan mata pencaharian. Namun, ia mengajak para petani untuk melakukan transformasi pola tanam yang lebih ramah lingkungan.
"Kita akan memfasilitasi petani di hulu untuk beralih ke tanaman tegak yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti kopi dan kakao. Fungsi konservasi lahan kembali pulih karena akar tanaman tegak mampu mengikat tanah dan mencegah erosi, sementara petani tetap memiliki penghasilan yang berkelanjutan," tegas Wali Kota yang akrab disapa Cak Nur tersebut, Sabtu (11/4/2026).
Selain transformasi pola tanam, Wali Kota juga memberikan arahan tegas terkait tata ruang. Ia menginstruksikan dinas terkait untuk melakukan audit menyeluruh terhadap izin usaha di wilayah rawan bencana, termasuk evaluasi teknis pada bangunan komersial yang berisiko tinggi.
Menurutnya, kepatuhan terhadap Analisis Risiko Bencana sesuai Perda Nomor 2 Tahun 2015 merupakan harga mati bagi setiap pembangunan di Kota Batu.
"Penegakan aturan tata ruang harus tegas tanpa pandang bulu demi keselamatan orang banyak. Jika ada pelanggaran yang menyebabkan bencana, maka tindakan hukum dan evaluasi perizinan wajib dilakukan," tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota juga menginstruksikan normalisasi sungai secara masif di wilayah hilir untuk mengembalikan kapasitas tampung air. Penyusunan cetak biru (blueprint) drainase kota yang terintegrasi akan segera dilakukan sebagai langkah antisipatif jangka panjang terhadap beban curah hujan yang ekstrem.
Pemerintah Kota Batu juga akan memperkuat peran masyarakat melalui edukasi dan simulasi bencana di tingkat desa atau kelurahan, khususnya di Desa Tulungrejo yang memiliki tingkat risiko signifikan.
Wali Kota berkomitmen bahwa langkah-langkah ini akan segera dieksekusi agar siklus banjir yang merugikan warga tidak kembali berulang.
"Kita tidak boleh membiarkan kerusakan ini berlarut-larut. Penanganan banjir Kali Krecek harus tuntas dari hulu hingga hilir. Dengan memadukan perbaikan infrastruktur fisik dan pemulihan ekosistem melalui tanaman tegak, saya optimis kita bisa mengembalikan keseimbangan lingkungan Kota Batu sekaligus menjamin kesejahteraan petani," pungkas Nurochman.
Kata Kunci / Tags
bumiajihuluwali kota batu
Rekomendasi Berita
Tidak ada rekomendasi berita
Berita Lainnya
Apel Kota Batu Tetap Jaya, Pe
Editor : Wahyudi