klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Tak Tersentuh Bantuan Sosial Pemerintah, Ibu Rumah Tangga Miskin di Gresik Ini Besarkan Anak Stunting

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy
Anggota Komisi II DPRD Gresik M Syahrul Munir saat mengunjungi rumah Laily Nifistiyyah ditemani Kader Posyandu setempat (Dok)
Anggota Komisi II DPRD Gresik M Syahrul Munir saat mengunjungi rumah Laily Nifistiyyah ditemani Kader Posyandu setempat (Dok)

KLIKJATIM.Com | Gresik— Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Gresik bernama Laily Nifistiyyah (41) harus berjuang membesarkan tiga anaknya dalam keadaan kekurangan, bahkan salah satunya dalam kondisi stunting.

Meski kondisi ekonominya rendah, Laily yang tinggal di Kelurahan Pekauman itu tak masuk dalam daftar penerima program bantuan atau jaminan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) maupun PKH Inklusif Pemerintah Kabupaten Gresik.

Baca juga: Dipasang Stiker ‘Keluarga Miskin’, Puluhan Warga Gresik Pilih Mundur Sebagai Penerima PKH

Hal itu diketahui dari hasil uji petik kasus stunting dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang dilakukan anggota DPRD Gresik M Syahrul Munir Kamis kemarin (06/10/2022).

Mulanya Syahrul menerima informasi dalam FGD bertema stunting dari salah satu peserta yang juga kader posyandu, jika di Kelurahan Pekauman ada salah satu warga miskin yang memiliki balita stunting.

"Lalu kami lakukan uji petik dengan mengunjungi rumah beliau, dan keadaannya memang masuk kategori keluarga miskin namun tak tersentuh program penanganan kemiskinan, baik PKH BPNT maupun PKH Inklusif," kata Syahrul.

Bahkan, dalam kunjungan itu, Syahrul mendapati jika anak Laily terancam putus sekolah lantaran tak masuk dalam Program Indonesia Pintar (PIP).

Anak pertama kini sekolah kelas V SD, sementara yang kedua kelas 1.

"Nah yang paling kecil usia 4 tahun, berat badannya 13 kilogram, tingginya 91 cm sehingga kader posyandu setempat mengkategorikan stunting. Setelah2 tahun diberi ASI tak pernah lagi minum susu formula karena keterbatasan ekonomi," beber Syahrul.

Realitas itu, kata Syahrul tentu membuatnya prihatin dan sedih, keluarga yang seharusnya masuk kategori penerima manfaat program pengentasan kemiskinan namun tak tersentuh.

"Harus diusulkan dan masuk DTKS sehingga bisa mendapatkan bantuan sosial dan ekonomi," katanya.

Baca juga: Penerima BPNT di Gresik Bakal Terima Uang Tunai Mulai Bulan Ini

Untuk menghidupi keetiga anaknya, Laily berjualan jajanan yang dititipkan di warung-warung terdekat. Laily tinggal serumah dengan saudara kandungnya.

"Kondisi rumah yang bersangkutan pun cukup tidak layak huni sehingga akan kami usulkan mendapatkan program bedah rumah," tandas Syahrul.

Namun untungnya Laily masih memegang kartu kepesertaan BPJS Kesehatan, sehingga saat anaknya sakit mendapatkan perawatan dari faskes secara gratis. (yud)

Editor :