klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

2021 Produksi Padi Jatim Turun 154 Ribu Ton Akibat Penyusutan Lahan Pertanian

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Seorang petani memanen padi di areal sawah desa Panyindangan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (30/3). Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional pada tahun 2015 sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik sebesar 10 persen dari ta
Seorang petani memanen padi di areal sawah desa Panyindangan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (30/3). Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional pada tahun 2015 sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik sebesar 10 persen dari ta

KLIKJATIM.Com | Surabaya - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat  produksi padi Jatim sepanjang Januari hingga Desember 2021 mencapai sekitar 9,789 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). 

Penurunan itu terjadi akibat semakin susutnya lahan panen padi yang tersedia.  Ini juga dipicu turunya kinerja Dinas Pertanian Jawa Timur.

"Sepanjang 2021  mengalami penurunan sekitar 154,95 ribu ton GKG atau sekitar 1,56 persen dibandingkan 2020 yang sebesar 9,944 juta ton GKG. Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 2,19 juta ton GKG sementara produksi terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 0,30 juta ton GKG," ujar Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan dalam keteranganya kepada wartawan.

Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2021 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi seperti Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Ngawi. Di sisi lain, beberapa kabupaten/kota mengalami peningkatan produksi padi yang relatif besar, misalnya Kabupaten Blitar, Kota Probolinggo, dan Kota Batu.

"Tiga kabupaten dan kota dengan total produksi padi tertinggi pada 2021 adalah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Ngawi. Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah ialah Kota Mojokerto, Kota Batu dan Kota Blitar," tambahnya.

Jika dilihat menurut Subround, penurunan produksi padi secara berturut-turut terjadi pada Subround Mei-Agustus 2021 dan September-Desember 2021, yaitu masing-masing sebesar 0,40 juta ton GKG atau sebesar 10,82 persen dan 0,22 juta ton GKG atau 10,44 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020.

Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2021 setara dengan 5,65 juta ton beras, atau mengalami penurunan sebesar 89,47 ribu ton (1,56 persen) dibandingkan 2020 yangs ebesar 5,74 juta ton.

Produksi beras tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 1,27 juta ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 0,17 juta ton. Berbeda dengan tahun 2021, produksi beras tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan April.

Penurunan produksi padi dan beras tersebut disumbang oleh penurunan luas panen yang terjadi pada Subround Mei-Agustus yang sebesar 80,66 ribu hektar atau 11,65 persen dan Subround September-Desember yang sebesar 24,64 ribu hektar atau 7,29 persen. Di sisi lain, peningkatan produksi padi hanya terjadi pada Subround Januari-April 2021, yaitu sekitar 0,46 juta ton GKG atau 10, 91 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020.

"Berdasarkan hasil Survei KSA, penurunan luas panen padi di tahun 2021 mencapai seluas 1,747 juta hektar, atau mengalami penurunan sekitar 6,89 ribu hektar atau 0,39 persen dibandingkan 2020 yang mencapai 1,754 juta hektar," tandasnya.

Selain itu puncak panen padi pada 2021 mengalami pergeseran dibanding 2020. Pada 2021, puncak panen terjadi pada bulan Maret, yaitu mencapai 0,39 juta hektar, sementara puncak panen pada 2020 terjadi pada bulan April, yaitu sebesar 0,39 juta hektar. (ris)

Editor :