klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Terdampak Pandemi, Pelaku UMKM ini Terpaksa Menjual Rumahnya, Namun Berkat Kegigihan, Kini Mampu Bangkit

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Dewi Bralin menunjukkan tas kulit buatannya. (Satria Nugraha)
Dewi Bralin menunjukkan tas kulit buatannya. (Satria Nugraha)

KLIKJATIM.Com I Sidoarjo – Gigih, itulah kesan mendalam terhadap sosok Dewi Sri Utami (45), salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di Sidoarjo. Badai pandemi membuat usaha pernak-pernik dan tas kulit miliknya ambruk. Namun dia tidak betekuk lutut. Dengan kreatifitas dan tekat yang kuat, kini dia mampu bangkit.

[irp]

Ditemui di rumahnya di Perumahan Palem Nirwana, Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Buduran Sidoarjo, ibu satu anak ini mengenang dan bercerita. Awalnya usaha pernak-pernik dan tas kulit yang dirintisnya sejak tahun 2003 dengan merk dagang Bralin ini baik-baik saja. Produksi dan omzet aman.

Namun semuanya berubah sejak pandemi covid-19 merebak pada awal tahun 2020. “Paling-paling pandemi hanya berlangsung singkat. Namun perkiraan dan harapan baik saya itu meleset jauh. Saya tidak menyangka, ternyata pandemi berlangsung hingga saat ini. Sejak Bulan Februari 2020, order baru tidak satu pun saya dapat,” kenang Dewi Bralin, sapaan akrabnya, Jumat (6/8/2021).

Beberapa supermarket souvenir yang sebelumnya rutin dia pasok, sementara menyetop ordernya. Hal itu membuat omzetnya berhenti. Kondisi tersebut sempat membuat Dewi Bralin panik, apalagi dia harus menggaji 10 karyawannya.

Namun, keputusan darurat cepat diambilnya. Dewi menjual rumah di Desa Wadungasih, Kecamatan Buduran yang dia tinggali. “Terpaksa. Hasilnya untuk melunasi semua tanggungan dan menggaji karyawan. Saya tidak ingin kehilangan mereka,” ucapnya.

Dewi mengaku tenang, meskipun hampir tidak memiliki penghasilan, setidaknya tidak memiliki tanggungan. Namun, ujian tidak berhenti disitu saja. Karena uang tabungan habis, Dewi terpaksa menjual motornya. Hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saat itu masa tersulit yang pernah saya alami. Bahkan sering saya kehabisan beras. Begitu juga uang,” katanya.

Meskipun ‘tersudut’, Dewi tidak lantas memutuskan untuk beralih profesi. Usahanya dijalaninya dengan passion penuh. Ia begitu jatuh cinta padanya.

Dewi kemudian mengambil langkah jitu. Ia menawarkan tas kulit buatannya ke beberapa perusahaan besar. Dan, yess !!! ‘Cahaya’ itu akhirnya datang juga. Dia ingat betul, pada pertengahan Bulan Desember 2020 lalu, order pertama datang dari Perum Jasa Tirta.

“Saya menangis dan langsung bersujud. Alhamdulillah saya bisa makan. Pikiran saya itu saja. Bersyukur banget,” imbuhnya.

Setelah itu, pesanan datang dari BUMN lain yang peduli dengan nasib UMKM. PT Pertamina misalnya, BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas di Indonesia ini memesan tas kulit kepada Dewi. Perum Jasa Tirta pun kembali mengorder cover buku dari kulit dalam jumlah banyak. Nominal yang disebutkan Dewi membuat dia sangat bersyukur.

Karyawan yang dahulu sempat dirumahkan, kini kembali bekerja. Bahkan mereka seringkali bekerja lembur untuk menyelesaikan pesanan. Dewi berprinsip harus membuat produknya sebaik mungkin, bahkan melebihi ekspektasi pemesan. “Untuk satu produk , saya bahkan membuat sampelnya lima kali lebih. Hingga saya merasa, ini produk terbaik yang bisa saya buat,” kata dia.

Selain itu, Dewi memasarkan produk tas kulitnya lewat jejaring internet. Pesanan dari Australia, Asia Hingga Eropa pun datang. Untuk pelaku UMKM yang lain, Dewi berpesan agar membuat produk yang istimewa dan unik, sehingga berbeda dengan produk yang lain. “Produk yang unik, gampang terlihat,” tutupnya. (rtn)

Editor :