klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Ekonomi Gresik Turun, Industri Manufaktur Jadi Andalan

avatar Abdul Aziz Qomar
  • URL berhasil dicopy

KLIKJATIM.Com | Gresik — Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat membuat pertumbuhan ekonomi di Gresik turun, meski penurunannya tidak besar.

[irp]

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Pemkab Gresik Hermanto T Sianturi menceritakan, triwulan pertama tahun ini ekonomi Gresik sempat terkontraksi sebesar 0,6 persen secara years on years (Yoy).

Namun dalam enam bulan pertama ini (semester pertama) ini, kontraksi ekonomi turun menjadi 0,44 persen. Angka itu sama dengan periode yang sama di tahun lalu.

"Sebetulnya, pada triwulan 1 kemarin pertumbuhan ekonomi Gresik sudah naik di angka 2 persen. Jumlah itu sudah naik 0,98 persen sejak tutup tahun 2020 kemarin," terang Hermanto.

Hermanto mengklaim, di tengah PPKM, pertumbuhan ekonomi di Gresik tidak terlalu terpengaruh. Pasalnya, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Gresik, 49 persen berasal dari industri manufaktur. Nah sektor ini selama PPKM tudak terlalu terdampak.

“Selama PPKM, aktivitas di industri manufaktur ini tidak terpengaruh. Aktivitasnya masih cenderung normal. Sehingga ekonomi di Gresik turun tapi tidak terlalu jauh,” ungkapnya.

Mantan Kepala Dinas Likungan Hidup itu menyebutkan, selain banyaknya industri manufaktur, tingkat order purchasing manager index (PMI) masih bagus. Data dari Bappeda menunjukan angka PMI masih berada di atas 50 persen.

"Artinya siklus belanja industri cenderung masih tinggi. Ini selaras anatra industri manufaktur dengan permintaan barang. Ini angkanya tetap,” urainya.

Namun demikian di luar sektor manufaktur, Hermanto mengakui sangat terdampak PPKM. Misalnya sektor hiburan, hotel, hingga restoran. Catatan semester pertama ini PAD dari pajak daerah di sektor tersebut anjlok.

Hal itu jelas mempengaruhi pendapatan asli daerah (PAD) di akhir tahun nanti. Sehingga APBD tahun depan bakal sulit untuk naik.

“Lapangan usaha yang  mengalami penurunan  atau kontraksi adalah transportasi dan pergudangan sebesar 14 persen. Kontraksi jasa lainnya sebesar 9,3 persen,” bebernya.

Dalam tutup tahun 2021 nanti, Pemkab memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi Gresik sebesar 2,81 persen. Jumlah itu masih di bawah angka tahun 2018 sebesar 5,97 persen. (bro)

Editor :