KLIKJATIM.Com I Sidoarjo – Ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan utama warga yang tinggal di sekitar tanggul penahan lumpur. Salah satunya di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin. Akhirnya mereka pun terpaksa harus mengeluarkan biaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan air.
[irp]
Ketua RT 11 RW III Desa Gempolsari, Khoirul Anam menuturkan, warganya setiap hari terpaksa membeli air bersih dari Prigen, Pasuruan. “Setiap hari kami harus mengeluarkan duit Rp 7.500 hingga Rp 10 ribu untuk membeli tiga jerigen air. Kebutuhan air tersebut untuk memasak dan minum. Selain itu, air bersih dipakai untuk membilas pakaian usai dicuci dan membilas badan usai mandi dengan air tanah,” jelasnya.
Menurutnya, mulai tahun 2009 atau tiga tahun paska lumpur menyembur air di kampungya mengalami perubahan. “Air yang tadinya bersih menjadi asin dan kekuningan. Kalau dipakai mandi, dibadan agak lengket. Maka itu harus dibilas dengan air bersih. Saat ini, air bersih menjadi kebutuhan utama kami,” lanjutnya.
Badan Penangulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) yang kini berganti nama menjadi Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) pernah memberikan bantuan air kepada warga. Namun tidak berselang lama, bantuan ini berhenti.
“Kami berharap pemerintah memberikan bantuan air bersih kepada kami, warga yang terdampak luapan lumpur,” imbuhnya.
Koordinator Kecil Bergerak Indonesia, Ardi Kurniaji pun membenarkan terkait kesulitan air bersih bagi warga terdampak lumpur. “Kami mendapat informasi untuk mencuci muka saja, warga terasa perih. Apalagi untuk dikonsumsi,” terangnya usai memberikan bantuan empat tandon air untuk warga Desa Gempolsari.
Pihaknya mengaku akan menyuplai air bersih setidaknya selama setahun ke depan. (nul)
Editor : Satria Nugraha