KLIKJATIM.Com I Nganjuk - Wacana impor 1 juta ton beras oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendapat banyak penolakan. Tak terkecuali dari para petani di Nganjuk. Rencana tersebut dinilai justru akan mencekik petani di tengah harga padi yang murah.
[irp]
Berdasarkan data yang dihimpun, harga gabah kering di Kota Angin berkisar antara Rp 3,6 ribu hingga Rp 3,8 ribu. Sedangkan untuk gabah basah lebih rendah lagi. Padahal, pada tahun sebelumnya harga gabah kering bisa mencapai Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu. “Rata-rata di wilayah Nganjuk harganya segitu,” ujar Mashudi, 40, salah satu petani asal Desa Sidoharjo, Tanjunganom.
Harga yang anjlok tersebut masih disebabkan oleh faktor cuaca saja. Belum ditambah dengan wacana impor beras. Jika kebijakan impor itu dilaksanakan, Mashudi khawatir harganya akan semakin jatuh. Karenanya, ia menolak wacana tersebut.
Terkait cuaca yang sering kali mendadak turun hujan, Mashudi menyebut saat ini petani kesulitan menjemur padi. Akibatnya, padi yang dijemur tidak bisa kering maksimal.
Kondisi itu pula yang dimanfaatkan oleh para tengkulak. Melihat padi yang tidak kering maksimal, mereka membeli gabah lebih murah lagi. “Ya kalau petani mau tidak mau tetap dijual (meski murah),” sambung Mashudi.
Sementara itu, salah satu penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk mengamini banyak petani yang resah dengan wacana impor beras. Pegawai negeri sipil (PNS) yang enggan disebutkan namanya itu mengakui jika impor beras jadi topik hangat di kalangan petani.
Gejolak timbul lantaran wacana impor beras muncul saat petani di Nganjuk sedang panen raya. “Waktu rapat di dinas (pertanian) juga ada petani yang mengeluhkan rencana impor itu,” beber abdi negara tersebut.
Gejolak dari para petani di Kota Angin dibenarkan Kepala Dispertan Nganjuk Judi Ernanto. Menyikapi hal itu, dispertan telah berkoordinasi dengan berbagai lintas sektor. Termasuk dengan bulog dan Dispertan Jatim.
Judi menjelaskan, untuk kebutuhan beras di Nganjuk dan Jatim secara umum tidak ada masalah. Pasalnya, berbagai daerah penghasil padi di Jatim sedang melaksanakan panen raya. Sehingga ia menilai wacana impor agak kurang tepat. “Kalau untuk panen kita berlebih,” tandasnya.
Saat ini, tutur Judi, Lebih jauh, pihaknya mengatakan sedang fokus untuk mendorong penyerapan panen petani Nganjuk secara maksimal. Terlebih, harga padi sekarang diakui sedang tidak stabil. “Kami mengupayakan agar bisa mencapai HPP (harga pokok penjualan, Red),” pungkasnya. (ris)
Editor : Redaksi