klikjatim.com skyscraper
klikjatim.com skyscraper

Temukan Banyak Kekurangan dalam Pembelajaran Daring, Pj Bupati Sidoarjo : Harus Ada Perubahan Sistemik

avatar klikjatim.com
  • URL berhasil dicopy
Pj Bupati Sidoarjo, Hudiyono di sela-sela kegiatan sidak terkait pembelajaran dengan sistem daring. (ist)
Pj Bupati Sidoarjo, Hudiyono di sela-sela kegiatan sidak terkait pembelajaran dengan sistem daring. (ist)

KLIKJATIM.Com | Sidoarjo - Pj Bupati Sidoarjo, Hudiyono mengatakan, standar kurikulum belajar tatap muka banyak terpangkas pada sistem daring (dalam jaringan). Utamanya mata pelajaran bahasa yang seharusnya 6 jam dalam seminggu, kini hanya 1,5 jam dalam pertemuan daring.

[irp]

Kemudian secara kuantitas, banyak siswa tidak mengikuti daring. Dari jumlah 40 siswa yang seharusnya ikut belajar daring, ditemukan hanya ada 20 siswa. Artinya hanya 50 persen yang ikut daring.

Hal tersebut diketahui dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan beberapa hari kemarin, bersama Kepala Dinas Pendidikan, Asrofi di SDN Pucang 2 dan SMPN 2 Sidoarjo. Sehingga benar-benar diharapkan ada perubahan sistemik dalam proses belajar mengajar di masa pandemi Covid-19 ini.

"Selain dari pengurangan jam mengajar, kita lihat lagi kualitas dan kuantitas siswa yang ikut belajar daring. Ternyata yang ikut tadi, saya cek sendiri hanya 50 persen dari total 40 siswa. Kualitas komunikasi antara guru dengan siswa juga jadi evaluasi, karena dalam satu Minggu hanya 1,5 jam belajarnya," ungkap Hudiyono.

Temuan lain yang dihadapi para siswa adalah kualitas jaringan internet. Jika jaringan internet di sekolah yang dipakai guru mengajar daring lancar, namun kondisi berbeda bisa terjadi dengan yang dialami oleh masing-masing siswa. Pasalnya banyak juga siswa yang mengeluh terkait lemahnya jaringan internet di rumah, atau karena kualitas handphone yang dipakai.

"Kalau saya melihat persiapan di sekolah SMPN 2 Sidoarjo sudah cukup baik, karena memang salah satu sekolah favorit. Sekolah ini punya fasilitas tablet (tab) yang bisa dipinjam oleh siswa yang terkendala tidak punya handphone dan juga tidak punya akses internet. Karena tablet atau tabnya sudah dilengkapi paketan internet," jelasnya.

Memang para siswa sebenarnya sudah mendapatkan bantuan paket internet dari pemerintah satu bulan 35 megabyte (Mb). Tapi jumlah ini masih kurang karena dalam sekali daring menggunakan zoom meeting, sekali pertemuan minimal 1,5 jam menghabiskan lebih dari 1 gigabyte (Gb). Sehingga rata-rata orang tua siswa mengeluarkan dana sendiri untuk beli paketan, minimal Rp 50 ribu dalam satu bulan.

Lebih lanjut terkait perubahan sistemik yang dimaksud, kata Hudiyono, bukanlah hanya perubahan pada akademiknya saja. Namun juga perubahan administrasi.

"Percuma kalau perubahan di akademis berubah, karena di dalam kelas itu yang berinteraksi hanya guru dan siswa saja. Tapi kalau belajar lewat virtual yang berinteraksi banyak, kurikulum, jaringan, terus metodologi untuk pembelajaran IT, kemudian orang tuanya harus mendampingi kemudian siswa itu sendiri," urainya.

Hudiyono pun menyarankan dengan sistem virtual, sekolah harus memperbanyak belanja pos untuk jaringan. Selain itu, sekolah juga bisa memanfaatkan tab atau komputer yang tidak terpakai di sekolah agar dipinjamkan ke siswa.

"Syaratnya harus dijaga, dirawat dan tanggung jawab apabila terjadi kerusakan. Karena ini aset milik negara," imbuhnya. (nul)

Editor :