KLIKJATIM.Com I Lamongan - Bermain di pertandingan tarkam (antar kampung) menjadi pilihan sambil menunggu jadwal kompetisi. Tak hanya pemain Liga 1 seperti kapten Persela Lamongan, Eky Taufik Febriyanto yang tak menolak main tarkam. Sejumlah pemain asing pun larut di kompetisi tak resmi itu.
[irp]
Eky meminta kehadiran pemain liga 1 di tarkam jangan pandang sebelah mata. Pertandingan itu justru bisa dimanfaatkan untuk menjaga stamina dan kebugaran. "Lebih untuk menjaga feeling bermain bola saja. Kalau latihan sendiri yang susah menjaga feeling bermain di pertandingan, termasuk tekanan dari lawan. Kalau di tarkam pas dapat musuh yang bagus lumayan juga," kata Eky.
Sejak kompetisi dihentikan karena pandemi pada Maret lalu, jarang ada tawaran yang datang ke Eky. Namun, sejak kondisi new normal diberlakukan, tawaran tarkam mulai bermunculan. Bahkan menurut Eky, sebagian pemain asing juga tergiur main tarkam. Padahal kalau dilihat dari sisi pendapatan, bayaran dari tarkam tidak besar.
Pemain kelahiran 15 Februari 1991 mengaku dibayar per pertandingan. Misalnya, di babak penyisihan per pertandingan ia dibayar sekitar Rp800 ribu. Jika tim yang dibelanya lolos ke semifinal, bayarannya meningkat. Semakin jauh tim melangkah di turnamen, semakin besar bayaran yang didapatkan pemain. Sejauh ini pendapatan terbesar Eky di tarkam hanya mencapai Rp2 juta per laga.
"Uangnya enggak gede-gede amat sih. Saya juga tidak milih-milih pertandingan. Cuma lihat situasi saja. Kalau tarkam di Jawa Tengah bayarannya tidak besar. Kalau di Bekasi, Jabodetabek lumayan besar biasanya," ujar Eky seperti dilansir CNN.
Walaupun tidak meminta izin secara resmi, tapi Persela sendiri dianggap Eky tidak masalah dengan pilihannya main di tarkam. Kalau merujuk regulasi kontrak, ya jelas tidak boleh. “Tapi bagaimana lagi, kompetisi tidak jelas. Manajemen juga paham kondisinya," ungkap pemain berusia 29 tahun itu.
Meski demikian, Eky juga mengakui ada risiko cedera yang menanti di tarkam. Ia memilih bermain aman dan tidak terlalu ngotot di lapangan. “Kita pemain harus super hati-hati, main aman. Tidak harus tampil 100 persen karena kan tarkam beda sama liga, bahaya. Tarkam tidak ada ikatan yang bisa ditanggung kalau cedera, tidak ada asuransi juga," jelas Eky.
Eky sadar, tampil di tarkam memang berisiko. Namun, ia berharap penyebaran Covid-19 bisa teratasi dan sepak bola bergulir kembali seperti biasa. "Semoga PSSI dan LIB bisa cepat memastikan waktu kapan liga bergulir. Yang mencari nafkah tidak hanya pemain dan pelatih tapi banyak yang mata pencariannya bergantung dari sepak bola," tutup Eky.(hen)
Editor : Abdul Aziz Qomar