KLIKJATIM.Com | Surabaya – Kisah perjalanan mistis yang dialami oleh Slopong dan Sumi tidak berhenti di pos tiga saja. Usai bertemu dengan dua orang pendaki atas petunjuk seekor burung gagak, Slopong dan Sumi kembali dipertemukan dengan dua orang, sehingga total ada empat orang pendaki yang ditemui.
[irp]
Dengan total waktu tempuh sekitar tujuh jam, tepatnya sekitar pukul 09.00 WIB, akhirnya keenam orang tersebut tiba di puncak Gunung Butak. Di sana, mereka seolah sedang berada di surga dengan segala keindahan alam puncak Gunung Butak.
“Bangun tenda lah kita di sana. Rencananya turun Minggu pagi. Jadi, kita niatnya ngecamp sambil malam mingguan di sana,” ujar Sumi.
Layaknya seperti rumah sendiri, mereka tak menghiraukan apapun hingga berani buang air kecil di danau dimana dekat tenda mereka berdiri. Kata-kata kotor pun juga tak jarang terlontar dari mulut para pendaki tersebut. Bahkan dua orang yang ditemui pertama kali oleh Slopong dan Sumi tersebut minum minuman keras.
Hingga malam yang ditunggu-tunggu tiba, bukannya bahagia justru teror kembali membayang-bayangi Slopong dan Sumi. “Malam minggu jam 12 malam ada suara ‘klintingan’ kuda dari atas tenda, itu suaranya kayak terbang,” ungkap Sumi.
Alhasil, kejadian itu memaksa Sumi dan Slopong untuk tidur lebih awal. Beruntunglah, sepanjang malam itu mereka tak menemui lagi kejadian-kejadian aneh. “Tapi Minggu paginya saya lihat kakeh-kakek pakai baju serba hitam. Saya perhatikan dan nggak sengaja ternyata di atas tempat camp kita itu ternyata kuburan, dan kita baru sadar ternyata kita bangun tenda di area makam,” tuturnya.
Dengan perasaan serba khawatir mereka pun bergegas turun. Dan, kejadian yang tak diinginkan pun akhirnya datang. Salah seorang pendaki yang berpesta miras itu tidak bisa berjalan lantaran terkilir saat turun gunung. “Tapi Alhamdulillah bisa sampai bawah. Saya turun itu cepet kira-kira cuma dua jam,” kata Sumi.
Tiba di pos awal pemberangkatan, Slopong dan Sumi segera mencari warung untuk melepas rasa was-was selama 4 hari 3 malam berada di Gunung Butak. Di sanalah misteri Gunung Butak terungkap melalui pengakuan seorang nenek penjaga warung. “Saya ditanya sama nenek itu, kok berani naik berdua mas. Padahal gunung ini angker apalagi naik malam Jumat,” kata Sumi menirukan nenek-nenek penjaga warung tersebut.
Nenek itu lantas mengungkapkan titik-titik mana saja yang terbilang sangat angker di Gunung Butak. Satu per satu tempat disebutkan oleh nenek tersebut, di antaranya adalah pasar setan yang berada di pos tiga pendakian, tepatnya di titik bekas kebakaran, termasuk pohon besar dimana Slopong dan Sumi mendirikan tenda pertama kali.
Titik kedua adalah danau, yaitu dimana tempat seorang putri bersemayam di sana. Dan danau itulah yang saat itu menjadi tempat seorang pendaki membuang air kecil. Sementara titik ketiga, adalah makam dimana Slopong dan Sumi serta para pendaki lain itu mendirikan tenda selama dua malam. Konon, makam tersebut adalah pintu gerbang menuju ke Gunung Lawu.
Keempat, di Gunung Butak tersebut ternyata juga ada sebuah kereta kencana yang tak jarang pula menampakkan diri kepada para pendaki.
Mendengar hal itu, Slopong dan Sumi pun kaget bukan main karena ternyata apa yang diucapkan oleh nenek tersebut sudah mereka alami sendiri. Seketika itu juga, Slopong akhirnya membuka semua apa yang sudah ia alami dan ia rahasiakan dari Sumi.
“Sebenarnya dari awal naik, terus kita dengar suara macan, sebenarnya kita juga sudah diikuti sama sesosok makhluk. Dan ingat waktu ada gagak muncul, ternyata di samping gagak yang loncat dari pohon ke pohon itu ada kuntilanak juga,” ungkap Sumi menirukan Slopong.
Sementara soal suara bel yang didengar Sumi, ternyata itu adalah suara kereta kencana. “Nenek itu cuma bilang kalau kita berdua ini istilahnya ‘blai slamet’. Karena sebenarnya kita dalam bahaya saat itu. Bagaimana tidak, seluruh penunggu Gunung Butak sudah menyapa bahkan mengikuti kita dari awal sampai akhir pendakian,” kata Sumi mengenang kejadian itu.
“Satu lagi, kata nenek itu di Gunung Butak ada dua tipe gagak. Pertama gagak yang menyesatkan dan kedua ada gagak yang menunjukkan arah jalan yang benar” tambah Sumi sembari bersyukur sebab saat itu burung gagak menunjukkan arah yang tepat.
Pasalnya, dari cerita yang beredar banyak para pendaki Gunung Pundak yang tersesat saat melakukan pendakian. Bahkan, ada yang tidak ditemukan hingga sekarang.
Dari kejadian itu, Slopong dan Sumi mengaku mendapat pelajaran yang sangat berharga yaitu bagaimana mereka bisa selamat dari ancaman para penunggu Gunung Butak. “Beruntung kami selama perjalanan tidak pernah berkata jorok, kita jaga kesopanan,” tandasnya. (bro)
Editor : Redaksi
Honda Premium Matic Day Ponorogo Berlangsung Meriah, Dipadati Antusiasme Pengunjung
Honda Premium Matic Day Ponorogo Berlangsung Meriah, Dipadati Antusiasme Pengunjung…
Gemerlap Surabaya Vaganza 2026, Parade Malam Hari Banjir Spot Estetik
Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Tunjungan untuk menyaksikan parade budaya tahunan Surabaya Vaganza 2026 dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS)…
Dampingi Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Gubernur Khofifah Optimis Bangkitkan Ekonomi Warga
KLIKJATIM.Com | Nganjuk – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendampingi Presiden RI, Prabowo Subianto…
Prabowo Pimpin Panen Raya Jagung Nasional di Tuban, Resmikan Gudang Pangan dan SPPG Polri
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II Tahun 2026 di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, tuban…
PLN Luncurkan Gelegar PLN Mobile 2026, Pelanggan Berkesempatan Raih Mobil dan Motor Listrik
KLIKJATIM.Com | Bekasi – PT PLN (Persero) resmi meluncurkan program loyalitas Gelegar PLN Mobile 2026 sebagai bentuk apresiasi bagi pelanggan yang aktif m…
Distribusi BBM di Kepulauan Sumenep Tersendat, Pertamina Tambah Pasokan ke Sejumlah Pulau
KLIKJATIM.Com | Sumenep – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Madura, masih menjadi keluhan masyarakat. Selama lebih d…