Era Banjir Informasi, ISNU Bojonegoro Ajak Milenial Sebar Islam Damai

klikjatim.com
Webinar ISNU Bojonegoro yang dihadiri sejumlah tokoh. (ist)

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Bojonegoro menggelar Webinar milenial. Bertema, meneguhkan khittah serta peran santri dan pemuda dalam menebar pesan perdamaian dan menangkal narasi kekerasan diera millenial, acara dibuka Bupati Bojonegoro yang diwakili Yayan Nur Rahman.

[irp]

Baca juga: Pandangan Terhalang Kabut? Ini Tips Berkendara Aman Menggunakan Motor Matic dari MPM Honda Jatim

Setidaknya ada sekitar 200an peserta yang ikut dalam acara webinar nasional tersebut. Ketua PP ISNU, Dr Ali Masykur Musa memaparkan banyak hal, utamanya tentang program jangka panjang 2045 (Indonesia emas). PP ISNU terlibat dalam merumuskan draf naskah akademik arah kompetensi pendidikan generasi 2045 Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Oktober 2020.

"PP ISNU dalam draft ini merumuskan spiritual-kompetensi-ketuhanan dan kompetensi kewarganegaraan," ungkap Dr Ali Masykur Musa saat mengawali webinar nasional Kamis (29/10/2020)

Masykur mengaku, kompetensi ini penting karena pemuda atau santri kedepan nantinya yang akan membawa arah Negara Indonesia. NU dan masyarakatnya juga harus mempunyai kemandirian ekonomi sehingga tidak mudah menjadi objek.

Sementara itu ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof Mas’ud Said menjelaskan terkait konsep wasathiyah (moderat) yang menjadi ciri khas NU harus dikedepankan oleh generasi muda dan santri. Menurutnya, menguasai teknologi sangat penting di era milenial karena pesan-pesan perdamaian bisa disebarluaskan melalui teknologi guna mengimbangi narasi-narasi kekerasan.

Profesor yang juga ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Bojonegoro itu sudah mempersiapkan terobosan yang dilakukan pengurus PW ISNU Jawa Timur, dengan dimilikinya website Da’i Intelektual Nusantara Network (DINUN). 

"Intelektual itu penting sekali, karena kapasitas intelektual yang mumpuni, bangsa menjadi maju dan narasi-narasi kekerasan akan ditinggalkan, dalam bahasa lain, harus mempunyai kemandirian intelektual," sambungnya.

Baca juga: Sambut 1448 Hijriah, Ratusan Siswa Yayasan Al-Abror Sukosewu Bojonegoro Semarakkan Pawai Ta'aruf

Sedangkan, Dr H.Kholid Ubed mengungkapkan, melihat pada sejarah, kasus kekerasan yang disebabkan bukan karena perseteruan akidah, tetapi karena politik. Padahal politik itu adalah satu bentuk gerakan yang tidak bisa ditinggalkan untuk kebaikan. "Sehingga seharusnya orang sadar bahwa pergesekan politik tidak harus saling baku hantam dan menghunus pedang," terang pak dokter Ubed

Dokter spesialis penyakit dalam, yang menjabat ketua PCNU Bojonegoro dua periode menambahkan, jika warga NU sudah mandiri secara ekonomi, maka ekonomi itulah yang digunakan untuk kemaslahatan umat melalui pergerakan. Bukan sebaliknya, pergerakan digunakan untuk mencari ekonomi.

Sedangkan Yogi Prana Izza mencoba mengidentifikasi akar dari narasi kekerasan. Menurutnya yang pertama adalah persepsi. Pasalnya pikiran, perkataan dan perbuatan berasal dari persepsi. Jika persepsi keliru, maka yang muncul dari pikiran, perkataan dan perbuatan adalah negatif.

"Banyak yang tidak bisa membedakan antara opini dan fakta. Oleh karena itu, dalam istilah sufi perlu dikedepankan Shihah al-Uqul (akal sehat) dalam memandang sesuatu," ucap dosen IAI Sunan Giri Bojonegoro itu.

Baca juga: Sambut Libur Sekolah, Hotel Santika Gresik Hadirkan Promo Staycation 'School Holiday is Coming'

Ketua PC ISNU Bojonegoro, lulusan Mesir itu menyebut yang kedua adalah nafsu. Sebab semua pikiran, perkataan, maupun perbuatan yang negatif, seperti menghujat, menjegal dan lain-lain sumbernya adalah nafsu. Oleh karena itu perlu yang disebut dalam tradisi spiritual sufistik dengan taharah al-qulub (pembersihan hati).

"Sehingga dua hal tersebut shihhah al-uqul (akal sehat) dan taharah al-qulub merupakan tradisi spiritual yang perlu dilestarikan. Atau melengkapi dari narasumber sebelumnya (kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual, kemandirian gerakan), maka ditambah dengan kemandirian spiritual," pungkasnya.

Dalam kegiatan wenibar nasional ini hadir secara virtual Dr KH Ali Masykur Musa, Prof Dr HM Mas’ud Said dan dr H. Kholid Ubed, serta H.Yogi Prana Izza dan dimoderatori Dr Hamam Burhanudin. (bro)

Editor : M Nur Afifullah

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru