KLIKJATIM.Com | Surabaya - Persoalan permukiman yang kumuh dan para tunawismanya akan menjadi topik utama dalam pertemuan ratusan negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada peringatan Hari Habitat Dunia, atau World Habitat Day 2020 mulai 5 Oktober di Surabaya. Sesuai tema yang diusung, 'Pemukiman Untuk Semua: Masa Depan Perkotaan yang Lebih Baik' akan menjadi bahasan menarik dan sangat penting di era pandemi seperti sekarang.
[irp]
Baca juga: TTL Berbagi Kebahagiaan Ramadhan bersama 141 Anak Yatim
Direktur Eksekutif UN Habitat (Badan Program Pemukiman Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa), Maimunah Mohd Sharif mengatakan, permasalahan permukiman menjadi penting dan mendesak di tengah pandemi Covid-19 ini. Pasalnya, masyarakat membutuhkan perlindungan yang cukup di dalam rumah serta fasilitas sanitasi yang memadai saat pandemi.
"Rumah sangat penting saat pandemi ini, karena ketika kita terkena lockdown, maka dibutuh tempat tinggal di rumah. Kalau kita tidak ada rumah, bagaimana kita bisa tinggal di rumah,” tutur Maimunah.
Baca juga: Ada Enam Lowongan Kerja di Bogasari Flour Mills Surabaya Tahun 2024, Buruan Lamar Gaji Tinggi
Karena itu akan ada diskusi panel melalui daring maupun luring untuk membahasnya. Dan menariknya lagi, diskusi ini akan diikuti oleh 193 negara anggota PBB. Adapun diketahui hingga saat ini yang daftar mengikuti diskusi panel sebanyak 900 peserta dari berbagai negara di belahan dunia.
“Panel nanti akan terdiri dari berbagai tema. Tentu saja yang tidak lupa, kami akan membahas bagaimana terkait inklusivitas, gender, anak muda, dan lainnya dalam penanganan pemukiman untuk semua,” imbuhnya.
Baca juga: Kala Khofifah Sebut Buruh Berperan Jaga Stabilitas Ekonomi Jatim di HUT SPSI ke-51
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengatakan, permukiman di perkampungan menjadi salah satu kunci penyelesaian penanganan Covid-19 di kota pahlawan. Dengan tidak mengubah budaya perkampungan di tengah kota, tapi masyarakat harus lebih bisa bertanggung jawab untuk penanganan Covid-19 di lingkungannya masing-masing.
“Kami merealisasikan ini dengan program yang namanya Kampung Tangguh. Jadi bagaimana permukiman bisa dimanfaatkan juga sebagai sarana penanganan Covid-19,” pungkasnya. (nul)
Editor : Redaksi