KLIKJATIM.Com | Bojonegoro - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Bojonegoro Menggugat berunjukrasa di depan Gedung DPRD Bojonegoro, Kamis (24/9/2020) siang. Aksi memperingati Hari Tani Nasional tersebut menyuarakan hak hak terkait konflik agraria yang tidak kunjung usai.
[irp]
Para mahasiswa menyuarakan untuk menolak omnibuslaw di depan gedung DPRD Bojonegoro, mereka bergantian orasi untuk menyuarakan kondisi yang tidak baik baik saja. "Di hari tani ini kami menolak undang undang terkait omnibuslaw," ungkap Edy Korlap aksi.
Dikatakan, ada empat tuntutan dalam aksi tersebut. Masing-masing laksanakan reforma agraria sejati dan gagalkan omnibus law serta hentikan perampasan tanah rakyat Bojonegoro. Kemudian, berikan subsidi pupuk sepenuhnya kepada petani Produsen dan terakhir hentikan konflik agraria dan kriminalisasi petani di Bojonegoro.
Baca juga: Tiga Warga Bojonegoro Dibacok Tetangga Sendiri, Polres Amankan Pelakunya
Menurutnya, persoalan petani juga tak lepas dari masalah pupuk kimia bersubsidi. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Orde Baru dengan Revolusi Hijaunya, awalnya memang sempat swasembada pangan tapi, kemudian hasilnya merosot kembali dengan terjadinya degradasi tanah, hama, dan bencana ekologis berupa banjir dan kekeringan.
Hingga sampai hari ini, kata dia, para tani sudah terlanjur tergantung pada pupuk kimia yang disubsidi. Namun alokasi pupuk menurun terus tiap tahun, kuota tahun 2019 yang semula 9,5 juta ton senilai 29,6 triliyun menjadi 7,94 juta ton 26,6 triliyun, pada 2020.
Baca juga: Polres Bojonegoro Tangkap 4 Pelaku Penipuan Gunakan Uang Palsu
"Jatim sendiri di tahun 2019 dapat kuota 2,78 juta ton, menjadi 2,26 juta ton di tahun 2020. Maka Kabupaten Bojonegoro tahun ini sendiri berkurang hingga lebih dari 53 persen dari pada tahun lalu," imbuhnya. (bro)
Editor : M Nur Afifullah