KLIKJATIM.Com | Surabaya - Angka deflasi Jawa Timur pada Juli 2020 lalu tercatat sebesar 0,29 persen. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) pusat merilis perkembangan harga indeks harga konsumen (IHK) pada Juli 2020 secara nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,10 persen.
[irp]
Baca juga: Pemprov Jatim Percepat Pemetaan Sumber Air untuk Antisipasi Kekeringan Lahan Pertanian
"Secara umum BPS melihat adanya penurunan harga komoditas sehingga menyebabkan deflasi pada bulan Juli 2020," kata Kepala BPS pusat, Suharyanto dalam konferensi pers melalui vidio live virtual, Senin (03/08/2020).
Dikatakan, deflasi yang terjadi pada Juli 2020 lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi 0,18 persen. Deflasi juga lebih rendah dibandingkan Juli tahun lalu yang mencatat inflasi sebesar 0,31 persen.
"Kalau kita lihat perkembangan tahunannya, kita lihat bahwa pergerakan inflasi di Indonesia terus menurun," ujar Suhariyanto.
Baca juga: Mulai Hari Ini Sampai 17 Agustus, Naik TransJatim Cuma Bayar Rp 81
Secara tahun kalender atau year to date sejak Januari hingga Juli 2020, inflasi tercatat sebesar 0,98 persen. Sementara secara year on year inflasi Juli 2020 tercatat 1,54 persen atau lebih rendah dari Juni 2020 yang sebesar 1,96 persen.
[irp]
Berdasarkan pemantauan harga di 90 kota, BPS juga mencatat ada 61 kota yang mengalami deflasi dan 29 kota lainnya mengalami inflasi. Deflasi dan inflasi tertinggi sama-sama terjadi di wilayah timur Indonesia, yaitu di Manokwari dan Timika.
Baca juga: Gubernur Khofifah Terima Penghargaan Tertinggi Dwija Praja Nugraha
"Deflasi tertinggi di Manokwari 1,09 persen karena ada penurunan beberapa komoditas bahan pangan seperti bawang merah, bawang putih, dan sebagainya. Sedangkan deflasi terendah terjadi di Gunungsitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk, dan Bulukumba yang masing-masing deflasi 0,01 persen," ungkapnya.
"Sementara untuk inflasi tertinggi, itu terjadi di Timika sebesar 1,45 pct. Salah satu komoditas yang menyumbang inflasi adalah kenaikan tarif angkutan udara. Inflasi terendah terjadi di Banyuwangi dan Jember yaitu 0,01 persen," pungkas Suhariyanto. (hen)
Editor : Redaksi