KLIKJATIM.Com | Surabaya—Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, meminta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) siap menjalanan tatanan baru dalam menjalankan usaha selama pandemi Covid-19.
“Kenapa sih sebenernya ada istilah normal baru karena kita nggak pernah akan tahu kapan akan normal kembali. Sampai saat ini vaksin covid-19 sedang dikembangkan, tetapi yang pasti bukan suatu upaya yang bisa cepet selesai, karena itu untuk waktu yang bisa saja lama kita akan hidup dengan tatanan yang baru,dan hidup dengan cara baru,” ungkap Wagub Emil Penyelamatan dan Peluang UMKM di Era Pandemic Pasca Covid 19 melalui siaran virtual zoom dan youtube, Rabu (10/6/2020).
Baca juga: Sengketa Lahan Desa Belun, BPN Bojonegoro Tegaskan Keabsahan Sertifikat Ahli Waris
[irp]
Menurut Wagub, hidup dengan tatanan baru mau tidak mau harus dilakukan dan berlaku bukan hanya di daerah zona merah Covid -19 tetapi yang zona hijau juga harus menerapkannya. Salah satu upaya yang bisa ditetapkan misal pelaku usaha rumah makan adalah memasang kaca mika untuk melindungi, karena orang makan pasti tidak pakai masker, sehingga yang paling aman untuk melindungi satu sama lain adalah menggunakan Mika yang membatasi antara satu tamu dengan tamu yang lain.
“Pelanggan nya lupa bawa masker, pengelolah rumah makan harus nyetok masker yang bisa dijual, sehingga orang yang datang tetap bisa pakai masker, wastafel kadang-kadang kita lihat di satu rumah makan gitu cuma dua padahal mejanya ada puluhan, sekarang itu udah bukan standar yang boleh lagi kalau bisa wastafelnya harus ditambah temporarily juga boleh,” jelasnya.
Agar memutus penularan virus Covid-19, Bank Indonesia mengingatkan semua pihak termasuk UMKM agar galakkan transaksi non tunai untuk menghindari transaksi langsung. “Penyebaran Covid karena salah satunya dari uang dengan transaksi non tunai akan memutus penyebaran melalui uang,” ujarnya.
Baca juga: Domino Naik Kelas: Surabaya Domino Tournament 2026 Sukses Jaring 1.500 Peserta Menuju Liga Pro
Saat ini lanjut Wagub, Dinas Koperasi dan UMKM Jatim sedang menyiapkan si Jawara. Ini adalah program pembelajaran jarak jauh. Nantinya ada 1000 UMKM yang juga akan diberikan kesempatan untuk belajar.
“UMKM kita 45% kebanyakan perdagangan buka toko atau pedagang keliling dan sebagainya sedangkan 18�alah industri pengolahan dan ternyata 18% akomodasi dan makanan minuman,” papar Wagub.
Saat pandemi seperti sekarang, banyak sekali warung makan yang tidak bisa mendapatkan pendapatan maksimal karena banyak pelanggan yang takut. Padahal jika warung makan bisa tertib menerapkan protokol kesehatan maka kekhawatiran pelanggan bisa diatasi. “Jika warung bisa menerapkan protokol kesehatan dengan benar maka Insya Allah itu menggerakkan ekonomi rakyat,” imbuhnya.
Baca juga: Intensitas Hujan Tinggi, Sejumlah Ruas Protokol Bojonegoro Terendam Banjir
[irp]
Lebih lanjut dikatakan Wagub, program UMKM perdananya dari pusat tetapi pengawalan fasilitasi, konsultasi untuk memperlancar bahkan mendorong UMKM berprestasi ini dilakukan oleh pemerintah provinsi, kabupaten maupun kota. “Jadi misalnya ada UMKM konveksi terus pabrik kain kesulitan, kalau kita tidak pastikan pabrikannya lancar kira-kira bagaimana nasib UMKM konveksi, mereka akan kesulitan memperoleh bahan baku. Nah kami tentunya melihat semuanya secara utuh tidak sepotong-sepotong,” tegasnya.
Pemprov juga melihat bagaimana UMKM ini jharus bisa berjalan dengan baik kedepannya restrukturisasi kredit insentif pajak, baik itu PPN maupun PPH oleh pemerintah pusat, harus dimanfaatkan dengan maksimalkan, itu menjadi fokus pemerintah Jawa Timur langkah tersebut adalah salah satu cara yang dilakukan Pemprov menjaga dan melindungi pelaku UMKM. (hen)
Editor : Redaksi