Petrokimia Gresik Bangun Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida, Target Rampung 34 Bulan

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Dirut Petrokimia Gresik, Daconi Khotob (kedua dari kiri), dan Dirut Rekind, Triyani Utaminingsih (kedua dari kanan), menunjukkan kontrak EPCC di Jakarta. (Dok/PG)

KLIKJATIM.Com | Gresik – PT Petrokimia Gresik bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Rekayasa Industri (Rekind) memperkuat sinergi pengembangan industri kimia nasional melalui pembangunan Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Gresik, Jawa Timur.

Pabrik dengan kapasitas produksi total 600.000 ton per tahun tersebut dirancang menghasilkan 300.000 ton soda ash dan 300.000 ton amonium klorida. Proyek ini juga menjadi bagian dari upaya pengembangan industri hijau melalui pemanfaatan karbon dioksida (CO₂) sebagai bahan baku produksi.

Baca juga: Produksi Petrokimia Gresik Tembus 6,59 Juta Ton, Perkuat Pasokan Pupuk dan Bahan Industri

Pembangunan fasilitas baru itu ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara Petrokimia Gresik dan Rekind di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Penandatanganan tersebut sekaligus menandai dimulainya tahap pelaksanaan proyek.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan pembangunan pabrik tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong hilirisasi, serta mewujudkan kemandirian industri nasional.

Menurutnya, proyek ini mendukung dua agenda utama Pupuk Indonesia Grup. Pertama, diversifikasi sumber nitrogen untuk kebutuhan produksi pupuk NPK. Kedua, memperkuat kedaulatan industri melalui pengembangan bahan baku kimia di dalam negeri.

"Ini proyek yang menuju transisi hijau. Ada carbon capture-nya, sekaligus melakukan diversifikasi sumber nitrogen untuk kebutuhan produksi pupuk NPK kita," ujar Rahmad.

Keberadaan pabrik tersebut diharapkan mampu memperkuat pasokan bahan baku industri domestik sekaligus menekan ketergantungan terhadap produk impor.

Soda ash atau natrium karbonat merupakan bahan kimia dasar yang digunakan dalam berbagai industri, seperti kaca, deterjen, kertas, tekstil, hingga pengolahan air. Sementara amonium klorida dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber nitrogen dalam produksi pupuk NPK maupun kebutuhan industri lainnya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menyebut penandatanganan kontrak EPCC menjadi tonggak penting setelah melalui serangkaian persiapan dan pembahasan proyek.

Dia menilai pembangunan pabrik tersebut tidak hanya memberikan peluang pengembangan bisnis perusahaan, tetapi juga memiliki manfaat lingkungan melalui pemanfaatan karbon dioksida dari fasilitas produksi yang sudah beroperasi.

Baca juga: Pemerintah Dorong Petrokimia Gresik Pasok Soda Ash ke Xinyi Glass

"Bagi Petrokimia Gresik, ini sangat penting. Bukan hanya aspek bisnis, tetapi juga aspek lingkungan karena ada penyerapan CO₂ yang cukup signifikan," kata Daconi.

Dalam proses produksinya, fasilitas baru tersebut akan menggunakan CO₂ dari fasilitas eksisting Petrokimia Gresik sebagai salah satu bahan baku pembuatan soda ash. Integrasi ini diharapkan meningkatkan nilai tambah pemanfaatan karbon dioksida sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon dari kegiatan industri.

Selain manfaat lingkungan, lokasi pabrik di kawasan industri Gresik juga dinilai strategis karena berdekatan dengan sejumlah industri pengguna. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat daya saing produk di pasar domestik.

Daconi menegaskan, keberhasilan pembangunan pabrik membutuhkan koordinasi dan komitmen seluruh pihak, terutama Petrokimia Gresik sebagai pemilik proyek dan Rekind sebagai kontraktor EPCC.

"Kami memastikan setiap tahapan berjalan sesuai perencanaan. Sinergi seluruh pihak sangat penting agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai anggaran, dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan," tegasnya.

Baca juga: Petrokimia Gresik Siapkan 443 Ribu Ton Pupuk Subsidi Jelang Musim Tanam

Sementara itu, Direktur Utama Rekind, Triyani Utaminingsih, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam proyek tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan fasilitas industri strategis nasional.

Sebagai kontraktor EPCC, Rekind bertanggung jawab melaksanakan seluruh tahapan pekerjaan, mulai dari rekayasa teknik, pengadaan peralatan dan material, konstruksi, hingga commissioning. Pelaksanaannya juga didukung mitra teknologi untuk penerapan teknologi produksi soda ash.

Proyek yang menggunakan teknologi HOU tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 34 bulan. Rekind berkomitmen mengutamakan kualitas, keselamatan kerja, ketepatan waktu, serta keandalan fasilitas yang dibangun.

"Kami berkomitmen memastikan pelaksanaan proyek berjalan optimal dengan mengedepankan aspek kualitas, keselamatan, ketepatan waktu, dan keandalan hasil pembangunan," ujar Triyani.

Melalui proyek ini, sinergi Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan Rekind diharapkan mampu memperkuat kemandirian industri kimia nasional. Selain mengurangi ketergantungan impor, pengembangan kedua produk tersebut juga menjadi langkah meningkatkan daya saing industri dalam negeri melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru