KLIKJATIM.Com | Bondowoso - Masyarakat Kabupaten Bondowoso kembali mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dalam beberapa hari terakhir. Antrean panjang kendaraan hingga meluber ke badan jalan terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Kondisi tersebut membuat warga harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Bahkan, tidak sedikit pengendara yang terpaksa pulang tanpa membawa Pertalite karena stok habis saat tiba giliran mengisi bahan bakar.
Baca juga: Burung Murai Milik Kades Jebung Bondowoso Raib Digondol Maling
Manajer SPBU Tamansari yang juga anggota Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Bondowoso, S. Jagir menyebut persoalan tersebut bukan disebabkan tidak tersedianya BBM, melainkan keterlambatan pengiriman.
Ia menduga keterlambatan dalam tiga hari terakhir berkaitan dengan keterbatasan armada pengangkut. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab lainnya.
"Kiriman dari Surabaya. Soalnya armadanya kurang mungkin, tidak tahu lagi saya," terangnya saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Oktober 2026.
Jagir menegaskan pasokan BBM tetap tersedia setiap hari, meski kedatangannya tidak sesuai waktu yang diharapkan. Ia menjelaskan, sumber pengiriman BBM ke SPBU Tamansari kini berasal dari dua wilayah.
Pertalite dikirim dari Surabaya, sedangkan Pertamax dan Solar dipasok dari Banyuwangi.
"Pokoknya tiap hari ada kiriman, tapi terlambat, terlambat," pungkasnya.
Baca juga: Kopi Bondowoso Dibawa ke Panggung Digital, PTPN I Regional 5 Gandeng Pemkab dan Kreator
Aminah, warga Kecamatan Tenggarang, mengaku telah mendatangi sejumlah SPBU, mulai dari Tamansari, Tenggarang, Kuta Kulon, Kejawan, hingga Maesan. Namun, upayanya tersebut belum membuahkan hasil.
"Hampir di semua SPBU antreannya sangat panjang sampai meluber ke jalan. Pas giliran mau beli, bensinnya seringkali sudah keburu habis," ujarnya.
Menurutnya, sulitnya mendapatkan Pertalite turut berdampak pada kenaikan harga BBM di tingkat pedagang eceran. Harga Pertalite yang biasanya dijual sekitar Rp15.000 per liter kini mencapai Rp20.000 per liter.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bondowoso bersama pihak berwenang segera melakukan penertiban dan pengawasan distribusi BBM bersubsidi agar penyalurannya tepat sasaran dan kesulitan masyarakat tidak berlarut-larut.
Baca juga: Reaktivasi KA Kalisat-Panarukan Belum Bisa Dikebut, Trase dan Kebutuhan Teknis Dikaji
Keluhan serupa disampaikan Firman, warga Kecamatan Grujugan. Ia mengaku terpaksa membeli Pertamax saat mengantre di SPBU Kembang karena antrean Pertalite terlalu panjang. Keputusan itu diambil agar kendaraannya tidak kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.
"Tadi malam saya antri di SPBU Kembang, karena antri Pertalitenya panjang, akhirnya saya beli Pertamax," ujarnya saat dikonfirmasi.
Keluhan warga dan penjelasan pengelola SPBU tersebut menunjukkan perlunya penelusuran lebih lanjut mengenai penyebab keterlambatan distribusi BBM di Bondowoso. Pengawasan pasokan dan kelancaran pengiriman menjadi hal penting agar antrean panjang tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat.
Editor : Wahyudi