2.300 Keluarga Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Jember Terkendala BBM

Reporter : Muhammad Hatta
Petugas mendistribusikan air bersih kepada warga di wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Jember. (Hatta/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Jember – Kekeringan yang melanda Kabupaten Jember terus meluas di tengah kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga akhir November 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember telah menyalurkan sekitar 1,3 juta liter air bersih sejak awal Juli untuk memenuhi kebutuhan 2.300 keluarga terdampak.

Namun, keterbatasan bahan bakar minyak (BBM), armada, dan anggaran operasional membuat distribusi air bersih harus dilakukan secara selektif. BPBD memprioritaskan wilayah dengan tingkat kebutuhan paling mendesak agar bantuan tetap menjangkau warga yang kesulitan mendapatkan air.

Baca juga: Retakan 30 Meter Muncul di Jalur Gumitir Jember, Penanganan Dimulai Akhir Pekan Ini

Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan, distribusi air bersih telah menjangkau 10 kecamatan yang meliputi 19 desa dan kelurahan. Berdasarkan data hingga 7 Oktober 2026, total air yang telah disalurkan mencapai sekitar 1,3 juta liter.

“Sudah 1.300.000 liter air selama proses mulai bulan Juli tanggal 2 sampai Oktober hari ini tanggal 7,” kata Edy saat diwawancarai Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, tingginya kebutuhan air bersih menjadi tantangan bagi petugas di lapangan. BPBD harus mengatur jadwal pengiriman agar bantuan tetap tersedia, sementara kemampuan distribusi terkendala kebutuhan operasional, terutama BBM.

Saat ini, BPBD Jember masih mengandalkan enam sumber mata air untuk memasok kebutuhan distribusi. Di sisi lain, permintaan bantuan berpotensi meningkat seiring bertambahnya wilayah yang mengalami kekurangan air.

Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, BPBD akan menyesuaikan frekuensi pengiriman berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Lokasi yang masih memiliki persediaan air untuk sementara waktu dapat menerima bantuan dengan jeda lebih panjang, dari semula setiap dua hari menjadi empat hari sekali.

Baca juga: Bea Cukai Jember Gagalkan Peredaran Jutaan Batang Rokok Ilegal

“Kami betul-betul memprioritaskan yang betul-betul memerlukan, sedangkan yang masih bisa ditahan, masih bisa disiasati tentu durasinya kita perpanjang,” ujarnya.

Edy mengungkapkan, kekeringan kini merambah sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak tercatat mengalami dampak serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Di antaranya Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.

Meluasnya wilayah terdampak menjadi perhatian karena musim kemarau tahun ini diperkirakan masih berlangsung hingga akhir November. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam keterangan tersebut, musim hujan diperkirakan mulai pada awal Desember 2026.

Baca juga: Jalan di Ruas Gumitir Retak Sepanjang 40 Meter, Polres Jember Lakukan Mitigasi Potensi Kecelakaan

BPBD Jember mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih dan mengutamakan pemanfaatannya untuk kebutuhan pokok, seperti minum, memasak, serta keperluan rumah tangga yang mendesak.

“Penggunaan air untuk mencuci kendaraan maupun kegiatan lain yang bisa ditunda sebaiknya dikurangi,” kata Edy.

Pemerintah Kabupaten Jember juga telah menetapkan surat keputusan tanggap darurat terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. BPBD terus berupaya menangani dampak kekeringan bersama berbagai pihak agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi di tengah keterbatasan armada dan operasional.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru