KLIKJATIM.Com | Sumenep – Persoalan stunting masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep. Dari 56.538 anak yang telah dilakukan pengukuran, sebanyak 1.789 anak tercatat mengalami stunting atau sekitar 3,2 persen.
Angka tersebut menjadi perhatian Pemkab Sumenep karena stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
Baca juga: Tongtong Sumenep Bersiap Guncang Parade MotoGP Mandalika 2026
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, penanganan stunting menjadi salah satu agenda penting pemerintah daerah. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah kesehatan.
“Stunting menjadi agenda prioritas bagi Pemerintah Daerah, sebab ini bukan sekedar masalah kesehatan, tapi pembangunan manusia,” ujar Fauzi, Kamis (1/10).
Menurut Fauzi, pencegahan harus dilakukan sejak sebelum anak lahir. Karena itu, intervensi tidak hanya menyasar anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga ibu hamil, ibu pascapersalinan atau menyusui, bayi, hingga balita.
Pendampingan sejak masa kehamilan dinilai penting agar gangguan pertumbuhan dapat dicegah sedini mungkin. Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui pemantauan tumbuh kembang anak setelah lahir.
Fauzi menyebut persoalan stunting memiliki dampak jangka panjang. Anak-anak yang tumbuh saat ini nantinya akan menjadi bagian dari generasi yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada 2045.
Baca juga: Tak Hanya Jual Sembako, Toko di Bangselok Sumenep Simpan Puluhan Botol Arak
“Stunting bagi kami sesungguhnya menjadi konsen penting, karena ini merupakan bagian dari gambaran masa depan bagaimana anak-anak cerdas kita siapkan untuk generasi 2045,” katanya.
Untuk itu, penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja. Keterlibatan tenaga kesehatan, kader, penyuluh, hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK) dibutuhkan agar pendampingan terhadap keluarga berjalan secara berkelanjutan.
Pemerintah juga mendorong agar pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan sejak fase awal, bukan baru bergerak setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan.
Baca juga: Menapak di Liga Nusantara: Asa Baru Talenta Futsal Sumenep Menembus Level Provinsi
Pembahasan mengenai upaya tersebut turut dilakukan Pemkab Sumenep bersama BKKBN Jawa Timur. Selain persoalan stunting, pertemuan tersebut membahas penguatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta pelayanan keluarga berencana (KB).
“Itu menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan kami dengan BKKBN Jawa Timur yang juga membahas penguatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), pelayanan KB serta percepatan penanganan stunting,” ungkapnya.
Dengan masih terdapat 1.789 anak yang tercatat mengalami stunting, Pemkab Sumenep tidak hanya dituntut menekan angka tersebut. Tantangan lainnya adalah memastikan intervensi pencegahan benar-benar menjangkau keluarga sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Editor : Abdul Aziz Qomar