KLIKJATIM.Com | Jember -Dampak bencana kekeringan di Kabupaten Jember semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat, sebanyak 922 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang tersebar di tujuh kecamatan.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, sebanyak 282.500 liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak.
Baca juga: Setelah 12 Tahun, Damkar Jember Dapat Armada Baru, Lebih Canggih dan Lincah
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan penanganan kekeringan saat ini mencakup Kecamatan Pakusari, Kalisat, Silo, Jelbuk, Bangsalsari, Sumbersari, dan Rambipuji. Wilayah terdampak tersebut meliputi enam desa dan satu kelurahan, dengan cakupan tujuh dusun, satu lingkungan, 11 RW, serta 17 RT.
“Total sementara ada 922 KK yang terdampak kekeringan di tujuh kecamatan. Distribusi air bersih terus dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi di masing-masing wilayah,” kata Edy saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Jember, Senin (17/8/2026).
"Catatan ini, berdasarkan rekap penanganan bencana kekeringan BPBD Jember per 15 Agustus 2026. Ini data sementara, dan kami akan terus update perkembangan informasi," imbuhnya.
Edy menjelaskan, Distribusi air bersih paling banyak dilakukan di Kecamatan Pakusari, tepatnya di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang. Sebanyak 125 KK terdampak di wilayah RT 02/RW 13 dan RT 03/RW 13. Hingga 15 Agustus 2026, pengiriman air telah dilakukan sebanyak 22 kali dengan total 115.000 liter.
"Pengiriman dilakukan dua hari sekali sebanyak 5.000 liter. Kami berkoordinasi dan kolaborasi dengan PMI Jember, dengan pendampingan BPBD," kata Edy.
Berikutnya, lanjut Edy, kekeringan melanda Kecamatan Kalisat, dengan menjadi wilayah dengan distribusi air terbanyak kedua. Di Desa Sumberjeruk, tepatnya Dusun Kidul dan Dusun Karangpring, terdapat 325 KK terdampak.
Hingga 13 Agustus 2026, air bersih telah dikirim sebanyak 16 kali dengan total 80.000 liter. Distribusi dilakukan secara bergantian oleh Dinas PRKPLH dan BPBD, Edy menjelaskan, dengan pengiriman BPBD sebanyak 5.000 liter setiap tiga hari.
"Kemudian di Kecamatan Silo, kekeringan berdampak pada 85 KK di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo. Kami (BPBD Jember) telah melakukan tujuh kali pengiriman air hingga 15 Agustus 2026 dengan total 35.000 liter. Distribusi dilakukan setiap dua hari sekali dengan volume 5.000 liter," jelasnya.
"Sementara di Kecamatan Jelbuk, sebanyak 102 KK di Dusun Sumber Tengah, Desa Panduman, terdampak kekeringan. Hingga 14 Agustus 2026, telah dilakukan empat kali pengiriman dengan total 20.000 liter. Bantuan air bersih dikirim tiga hari sekali oleh PDAM sebanyak 5.000 liter. Namun, distribusi di wilayah tersebut nantinya direkomendasikan dihentikan setelah jaringan pipa berfungsi dan sudah menjangkau warga terdampak," sambungnya menjelaskan.
Selanjutnya, lanjut Edy, Kecamatan Bangsalsari juga masuk dalam wilayah penanganan. Sebanyak 75 KK di Dusun Dukuh II, Desa Banjarsari, terdampak kekeringan. Hingga 13 Agustus 2026, baru dilakukan dua kali pengiriman dengan total 10.000 liter. Air bersih disalurkan setiap lima hari sekali oleh PDAM dengan pendampingan BPBD.
Baca juga: Sambut HUT Ke-81 RI, Relawan Jember Gelar Safari Merah Putih: Konvoi Hingga Bentangkan Kain 81 Meter
Berikutnya, di Kecamatan Sumbersari, kekeringan terjadi di Lingkungan Pelinggian, Kelurahan Antirogo, dengan jumlah 90 KK terdampak. BPBD dan PMI menempatkan masing-masing dua tandon berkapasitas 1.200 liter. Distribusi air dilakukan setiap dua hari sekali. Hingga 15 Agustus 2026, telah dilakukan lima kali pengiriman dengan total 17.500 liter.
Sedangkan di Kecamatan Rambipuji, lebih lanjut Edy memaparkan, sebanyak 120 KK di Dusun Bunder, Desa Kaliwining, terdampak kekeringan. Distribusi air baru dilakukan satu kali pada 14 Agustus 2026 sebanyak 5.000 liter.
"BPBD juga telah menyiapkan tiga tandon berkapasitas 1.200 liter serta satu tandon hibah berkapasitas sama. Untuk penanganan berikutnya, kami merekomendasikan dukungan distribusi air bersih dari BBWS Brantas Jawa Timur," ungkapnya.
Secara keseluruhan, lebih jauh Edy menyampaikan, BPBD Jember mencatat telah melakukan 57 kali pengiriman air bersih ke tujuh kecamatan. Selain distribusi air, penanganan juga dilakukan dengan menempatkan tandon air di sejumlah titik agar warga memiliki tempat penampungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"BPBD mencatat terdapat 26 tandon yang didistribusikan dengan rincian 25 tandon berkapasitas 1.200 liter dan satu tandon berkapasitas 2.200 liter. Selain itu, terdapat satu tandon mandiri berkapasitas 1.000 liter serta dua tandon bantuan PMI masing-masing berkapasitas 1.200 liter," bebernya merinci progres penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Jember.
Untuk mendukung distribusi, tersedia empat mobil tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter yang berasal dari BPBD, Dinas PRKPLH, PDAM, dan PMI.
Baca juga: Dua Kandang Ayam di Jember Terbakar, Kerugian Capai Rp3,3 Miliar, Mesin Pemanas Jadi Sorotan
"Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan warga serta perkembangan kondisi sumber air di masing-masing wilayah," katanya
Edy juga menegaskan, distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Di wilayah yang jaringan airnya sudah kembali berfungsi dan mampu menjangkau warga terdampak, bantuan air bersih dapat dihentikan dan dialihkan ke daerah lain yang membutuhkan.
“Prinsipnya distribusi menyesuaikan kondisi di lapangan. Kalau sumber atau jaringan air sudah berfungsi dan bisa menjangkau warga, bantuan air bersih bisa dihentikan dan kami prioritaskan ke wilayah yang masih mengalami kesulitan air,” ujar Edy.
Dengan kondisi tersebut, BPBD masih melakukan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami perluasan dampak kekeringan.
"Sekaligus kami juga memastikan kebutuhan air bersih warga terdampak tetap terpenuhi," pungkasnya.
Editor : Wahyudi