KLIKJATIM.Com | Trenggalek - Jika Surabaya Raya dan Malang Raya menerapkan Pembatasan Sossial Berskala Besar (PSBB), maka Pemkab Trenggalek kini mengkampanyekan imbauan Gotong Royong Berskala Besar (GRBB). Kampanye GRBB ini untuk mengantisipasi penularan Covid-19, terutama saat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah nanti.
[irp]
“Jangan meremehkan aktivitas perjalanan dari daerah satu ke daerah lain, khususnya dari daerah yang telah menerapkan PSBB,” kata ungkap Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin.
Dikatakan, ada tujuh poin yang perlu dipatuhi selama GRBB untuk semua elemen masyarakat, mulai tingkat kabupaten, desa, hingga RT/RW. Pertama, menjaga wilayah sampai ke tingkat RT untuk memastikan pendataan ketika ada pendatang (pemudik). Penjagaan itu dapat dengan mengaktifkan kembali fungsi siskamling. Mereka (pendatang) harus jalani isolasi, memakai masker, dan jaga jarak.
"Kedua, menghalau orang-orang yang tidak dikenal memasuki rumah selama Hari Raya Idul Fitri. Hal itu semata-mata untuk mengurangi potensi kerumunan dan tertular penyakit. Ketiga, memastikan setiap tetangga yang miskin dan terdampak sudah terdata dan masuk program bansos, apabila tidak mendapat beberapa bantuan, seperti zakat mal, fitrah, infak, atau sodaqoh di lingkungannya," terang dia.
Baca juga: Pamit Mancing Tak Pulang, Warga Trenggalek Dicari Tim SAR
Gus Ipin, sapaan akrab Mochamad Nur Arifin menyambung, keempat adalah dengan terpaksa mengimbau untuk tidak menggelar salat id di Masjid Agung Baitur Rachman karena takmir tidak mampu mengontrol pendatang yang ikut berjamaah. “Sesuai imbauan MUI, salat id dilakukan di rumah dengan lingkungan kecil. Dan seusai protokoler kesehatan, bisa dilakukan lingkup keluarga,” kata dia.
[irp]
Dia menambahkan, kelima, takbir tetap digemakan meski hanya dari rumah masing-masing. Itu dilakukan karena sebagai bentuk rasa syukur ketika menyambut hari kemenangan. “Ketika mematuhi protokoler kesehatan, maka kemenangan atas virus korona bisa didapatkan,” sambungnya.
Baca juga: Banjir dan Longsor Serang Trenggalek, Warga Terjebak Akses Terputus
Keenam, silaturahmi secara virtual. Seperti instruksi dari pemerintah agar tidak menggelar open house. Dia berharap agar masyarakat juga mematuhi dan saling memaafkan hingga saling mendoakan. “Karena doa kita kepada saudara sebangsa dan setanah air adalah silaturahmi yang tertinggi,” cetus dia.
Ketujuh, kata dia, gerakan GRBB bisa untuk mengatasi risiko penyebaran penyakit, dampak sosial-ekonomi, hingga keamanan, ketika sadar untuk sedekah informasi. Yakni dengan menginformasikan ketika ada pendatang yang keluyuran, bantuan tak tepat sasaran, dan sebagainya. Adapun bersedekah pastisipasi, yakni guna menjaga perbatasan agar tidak tertular. “Terakhir, sedekah rezeki, dengan pengumpulan sejumlah dana di tingkat desa, untuk membantu mereka yang miskin dan terdampak, tapi belum terdata dan belum menerima bantuan,” kata Gus Ipin. (hen)
Editor : Redaksi