KLIKJATIM.Com | JEMBER – Keterbatasan fisik tak menghalangi Abdul Azis (28) untuk terus berkarya dan mencari nafkah. Penyandang disabilitas tuna daksa asal Dusun Krajan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember itu kini menjalani profesi sebagai pengemudi ojek online (ojol) sekaligus konten kreator.
Dalam beraktivitas, Azis menggunakan papan skateboard sebagai alat bantu mobilitas. Sementara saat bekerja mengantar pesanan, ia mengendarai sepeda motor matik yang telah disesuaikan dengan kebutuhannya.
Keputusan menjadi pengemudi ojol berangkat dari keinginannya untuk hidup mandiri dan tidak terus bergantung kepada keluarga.
"Awalnya karena ekonomi juga. Tidak mungkin saya terus bergantung kepada orang tua. Akhirnya saya memberanikan diri mencoba menjadi ojol," ujar Azis saat ditemui di Jember.
Azis mengaku baru sekitar satu bulan menjalani profesi tersebut. Sebelumnya, ia sempat terkendala administrasi karena masa berlaku SIM D miliknya telah habis. Setelah memperpanjang SIM, ia akhirnya diterima sebagai mitra pengemudi.
Setiap hari, Azis bekerja sejak pagi hingga siang untuk menerima pesanan sekaligus merekam aktivitas yang kemudian diolah menjadi konten media sosial. Proses penyuntingan video biasanya ia lakukan pada malam hari.
Meski penghasilannya sebagai ojol belum besar, ia bersyukur karena mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
"Meskipun hasilnya belum banyak, alhamdulillah sudah bisa mencukupi kebutuhan saya sendiri," katanya.
Motivasi terbesar Azis adalah membahagiakan orang tuanya. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Selain menjadi ojol, Azis aktif membuat konten di Instagram dan TikTok melalui akun @Bangziss. Berawal dari iseng, sejumlah videonya kini mendapat ratusan ribu tanda suka dan dibagikan ribuan kali oleh warganet.
Namun, ia menegaskan konten yang dibuat bukan untuk mencari belas kasihan.
Baca juga: Dua Mantan Karyawan Konter HP di Jember Akui Ambil 73 Unit Ponsel Dalam Persidangan
"Saya hanya ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga punya ruang yang sama untuk berkarya. Media sosial bukan hanya milik orang yang fisiknya sempurna, tetapi juga milik kami," ujarnya.
Perjalanan menerima kondisi dirinya tidak selalu mudah. Azis mengaku pernah mempertanyakan mengapa ia terlahir dengan keterbatasan fisik. Namun seiring waktu, ia memilih berdamai dengan keadaan dan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang.
"Mungkin Tuhan memilih saya karena saya lebih kuat. Dengan apa yang saya lakukan sekarang, belum tentu orang lain bisa melakukannya," tuturnya.
Semasa sekolah di sekolah umum, Azis juga pernah mengalami perundungan. Meski demikian, ia mengaku mendapat banyak dukungan dari teman-temannya sehingga mampu melewati masa tersebut.
Kini, ia terus menantang dirinya mencoba hal-hal baru, mulai dari menjadi ojol, membuat konten, hingga aktif di berbagai komunitas yang mayoritas anggotanya bukan penyandang disabilitas.
Salah satu hal yang paling membantunya beraktivitas adalah papan skateboard. Sebelum menggunakannya, Azis mengaku harus digendong saat berpindah tempat. Kini, ia dapat bergerak sendiri, bahkan menaiki tangga dengan bantuan skateboard yang dibawakan rekannya.
Bagi Azis, setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar.
"Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu bisa atau tidak. Kalau ternyata belum bisa, setidaknya saya sudah berani mencoba," katanya.
Ke depan, Azis berharap dapat terus hidup mandiri sekaligus menginspirasi masyarakat agar memandang penyandang disabilitas sebagai individu yang memiliki kemampuan dan semangat yang sama untuk berkarya.
"Setidaknya dengan menjadi ojol saya bisa mandiri. Lewat konten yang saya buat, saya juga ingin menunjukkan bahwa kami yang memiliki keterbatasan tetap punya semangat besar untuk terus bergerak," pungkasnya.
Editor : Abdul Aziz Qomar