KLIKJATIM.Com | Gresik – Memasuki semester II tahun 2026, dunia usaha masih dihadapkan pada perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta persaingan bisnis yang semakin ketat. Namun, di tengah kondisi tersebut, sejumlah perusahaan justru mampu mencatatkan pertumbuhan yang agresif. Menurut General Manager Icon Mall Gresik, Andiyanto Vino, kondisi saat ini bukanlah krisis, melainkan era ketidakpastian yang menuntut perusahaan beradaptasi lebih cepat.
Vino mengatakan, proyeksi ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,1 persen pada 2026, sementara ekonomi global diperkirakan tumbuh sekitar 3,3 persen, didorong oleh investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), penyesuaian rantai pasok, serta mulai meredanya sebagian ketegangan perdagangan.
Baca juga: Omah Herborist Ekspansi ke Gresik, Tawarkan Produk Natural Berkualitas Mulai Rp 10 Ribu
"Artinya, peluang tetap ada. Namun, pertumbuhan tidak lagi mudah diperoleh. Konsumen semakin selektif, investor lebih berhati-hati, dan perusahaan dituntut bekerja jauh lebih efisien," ujar Vino.
Menurutnya, strategi bisnis yang selama ini mengandalkan ekspansi cabang, peningkatan belanja iklan, atau perang diskon tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan. Kini, pertumbuhan perusahaan lebih ditentukan oleh produktivitas, pemanfaatan AI, pengelolaan data, peningkatan pengalaman pelanggan, serta efisiensi penggunaan modal.
Ia menilai pandangan tersebut sejalan dengan berbagai kajian lembaga internasional seperti McKinsey, Bain & Company, Harvard Business Review, Forbes, hingga IMF yang menempatkan produktivitas dan transformasi digital sebagai faktor utama daya saing perusahaan.
Vino mengungkapkan, perusahaan yang akan memenangkan persaingan bukan lagi yang memiliki ukuran terbesar, melainkan yang mampu belajar lebih cepat, berani bereksperimen, serta sigap beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Di sisi lain, perilaku konsumen juga mengalami perubahan. Menurutnya, pelanggan kini tidak semata mencari harga murah, tetapi lebih mempertimbangkan nilai yang diperoleh dari setiap produk atau layanan yang dibeli. Karena itu, perusahaan perlu meningkatkan kualitas produk, pelayanan, dan pengalaman pelanggan dibanding sekadar menawarkan potongan harga.
Baca juga: Icon Mall Bangun Sinergi dengan Media, Siapkan Strategi Pengembangan
Ia juga menyoroti fenomena middle squeeze, yakni tekanan yang semakin besar terhadap perusahaan yang berada di segmen menengah. "Bisnis yang tidak memiliki diferensiasi yang jelas akan semakin sulit bersaing. Mereka tidak cukup murah untuk bersaing di pasar harga, tetapi juga belum mampu menawarkan nilai premium," jelasnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Vino menawarkan lima strategi utama yang dinilai relevan bagi pelaku usaha. Pertama, menjaga likuiditas melalui pengelolaan arus kas, perputaran persediaan, piutang, dan biaya operasional. Kedua, meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan teknologi, termasuk AI, agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih efisien tanpa harus terus menambah sumber daya manusia.
Strategi berikutnya adalah membangun hubungan langsung dengan pelanggan melalui pengelolaan basis data, program loyalitas, dan sistem Customer Relationship Management (CRM). Menurutnya, perusahaan yang menguasai data pelanggan akan lebih siap menghadapi perubahan algoritma platform digital.
Selain itu, perusahaan juga perlu memiliki diferensiasi yang jelas, baik sebagai yang tercepat, termurah, terbaik, paling nyaman, maupun paling premium. Tanpa posisi yang kuat di pasar, margin keuntungan akan semakin tergerus oleh persaingan.
Baca juga: Hotel Santika Gresik Pererat Sinergi dengan Vendor Lewat Glitz & Glam Wedding Gathering
Strategi terakhir adalah membangun sumber pendapatan yang lebih beragam atau optionality. Perusahaan didorong tidak hanya mengandalkan satu model bisnis, tetapi juga mengembangkan kanal penjualan offline, online, layanan B2B, membership, hingga layanan digital.
Khusus sektor ritel, Vino menilai pusat perbelanjaan kini telah bertransformasi menjadi destinasi sosial, hiburan, dan ruang komunitas. Karena itu, tenant yang menawarkan pengalaman berbelanja yang tidak dapat digantikan oleh e-commerce, seperti kuliner, hiburan, kesehatan, kebugaran, pendidikan, dan layanan berbasis interaksi, diperkirakan akan terus tumbuh.
"2026 bukan tentang bertahan dari perlambatan ekonomi. Ini adalah tahun ketika perusahaan dipaksa memilih, apakah menjadi lebih produktif, lebih cerdas memanfaatkan AI, dan lebih dekat dengan pelanggan, atau perlahan kehilangan daya saing," pungkas Vino.
Editor : Wahyudi