KLIKJATIM.Com | Surabaya - Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi mengatakan realisasi penyaluran untuk produk Biosolar di Jawa Timur hingga Jumat (26/6), mencapai 1,2 juta kiloliter (KL) yakni melebihi kuota harian yang hanya 1,16 juta KL atau 103,3 persen (year-to-date/ytd).
"Untuk penyaluran per bulannya sampai pertengahan Juni ini secara rata-rata sudah over kuota yaitu sudah 103,3 persen. Ini lebih dari jumlah yang ditugaskan ke Pertamina untuk disalurkan ke masyarakat (sebanyak 1,16 juta KL ytd)," katanya kepada ANTARA di Surabaya, Senin.
Baca juga: Guru Kompeten, Lulusan Berkualitas: MPM Honda Jatim Perkuat Pendidikan Vokasi melalui TSM Honda
Sementara untuk penyaluran Pertalite hingga Jumat mencapai sebanyak 1,8 juta KL atau sudah 96 persen (ytd) dari kuota harian 1,86 juta KL.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), Ahad menyebutkan untuk kuota Biosolar mencapai 2,47 juta KL sedangkan Pertalite sebanyak 3,96 juta KL.
Ia mengatakan kelangkaan terjadi saat kuota BBM subsidi secara tahunan masih aman karena Pertamina tidak bisa secara langsung melakukan distribusi dan menambah suplai untuk mengikuti permintaan atau demand.
Konsumsi masyarakat terhadap Pertalite dan Biosolar salah satunya didorong oleh adanya peralihan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari nonsubsidi ke subsidi pascakenaikan harga Pertamax dan Pertamina Dex.
"Terdapat peningkatan konsumsi secara rata-rata untuk Pertalite dan Biosolar pascapenyesuaian (harga Pertamax dan Dex) terakhir itu ada shifting atau peralihan (dari BBM nonsubidi ke BBM subsidi) sebanyak 10 persen," ujar Ahad.
Baca juga: Biadab, Ayah Kandung Hamili Putrinya Yang Berusia 17 Tahun di Surabaya
Ia menekankan Pertamina harus bisa menjaga pasokan BBM subsidi tetap ada dan tersalurkan ke masyarakat hingga akhir tahun ini sehingga pihaknya tidak bisa memasok BBM tanpa mempertimbangkan keamanan energi sesuai kuota.
“Kami perlu menjaga kuota BBM subsidi tetap ada dan bisa disalurkan kepada masyarakat sampai 31 Desember 2026. Apabila kami menggelontorkan tanpa mempertimbangkan kuota yang tersisa maka ini menjadi risiko pada saat nanti kuota habis sebelum waktunya,” katanya.
Meski demikian, Pertamina telah berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan paralel melaksanakan mitigasi percepatan pemenuhan penyaluran dengan adanya kondisi peningkatan konsumsi di tengah masyarakat.
Selain itu, Ahad mengatakan pihaknya juga telah melaksanakan prioritas pengiriman dari Terminal BBM supply point dan alih suplai dari Terminal BBM terdekat dari wilayah penyaluran sehingga BBM yang dikirimkan semakin bertambah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat.
Baca juga: Wagub Emil Dorong Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Keluarga
Mobil tangki pun dimaksimalkan dengan skala prioritas pengiriman ke wilayah dengan kendala pasokan dan demand tertinggi.
Pertamina juga masif melaksanakan monitoring berkala terkait pasokan dan distribusi di lapangan dan terus mengedepankan aspek keselamatan dalam setiap aktivitas operasional demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Dengan segala mitigasi ini diharapkan dapat segera mengurai antrean dan kondisi penyaluran kembali normal," kata Ahad.
Editor : Wahyudi