Gubernur Pimpin Tanam Perdana Tebu di Kediri, Jatim Perkuat Peran sebagai Penopang Swasembada Gula Nasional

Reporter : Abdul Aziz Qomar
Gubernur Khofifah saat memimpin penanaman tebu di Kediri. (Dok)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin tanam tebu perdana dalam program bongkar ratoon serentak di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan swasembada gula nasional.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Khofifah didampingi Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara Mahmudi, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, jajaran kepala perangkat daerah Pemprov Jatim, serta para kepala daerah yang mengikuti secara daring.

Baca juga: Tingkat Pengangguran Jatim Turun Jadi 3,55 Persen, Khofifah Sebut Ekonomi Tumbuh Inklusif

Selain melaksanakan bongkar ratoon dan tanam perdana, Jawa Timur juga melakukan perluasan areal tanam tebu. Pada tahun 2026, Jawa Timur mendapat target pengembangan tebu terbesar secara nasional, yakni 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten dengan 15 titik tanam. Dari seluruh daerah tersebut, Kabupaten Kediri memiliki area terluas sehingga dipusatkan di Desa Ngletih bersama Kelompok Tani Tebu Semoga Jaya. Kita menanam dengan doa, semoga hasilnya tidak hanya produktif tetapi juga membawa keberkahan,” kata Khofifah.

Menurutnya, program tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan target swasembada gula konsumsi nasional tahun ini dan swasembada gula konsumsi maupun industri pada tahun depan.

“Ada niat mulia untuk mencapai swasembada gula. Salah satu yang diharapkan adalah peningkatan produktivitas dan perluasan lahan tebu di Jawa Timur,” imbuhnya.

Khofifah juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri gula yang terintegrasi, khususnya pada tahap pascapanen dan penggilingan. Menurutnya, petani harus mendapatkan kepastian pasar dan harga yang layak setelah gula diproduksi.

“Petani tebu harus memiliki kepastian bahwa hasil panennya terserap pasar dengan harga yang komersial,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, sebelumnya distribusi gula petani sempat terganggu akibat membanjirnya gula rafinasi di pasar konsumsi.

“Karena itu, target swasembada gula konsumsi harus berjalan dalam satu paket kebijakan. Pemerintah saat ini telah mengurangi impor gula rafinasi dan pengelolaannya diserahkan kepada BUMN agar pengawasan lebih mudah dilakukan,” jelasnya.

Khofifah menegaskan gula rafinasi seharusnya hanya digunakan untuk kebutuhan industri dan tidak masuk ke pasar konsumsi karena dapat merugikan petani tebu lokal.

Untuk itu, ia mengajak seluruh petani tebu dan pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi.

“Kita berharap ekosistem pergulaan benar-benar terserap oleh market sehingga memberi manfaat maksimal bagi petani,” katanya.

Gubernur Khofifah juga menegaskan keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengawal program penguatan industri gula nasional.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Jawa Timur sangat serius. Dalam setiap pertemuan, gubernur, wakil gubernur, dan sekda hadir sebagai satu paket. Artinya, kami memiliki komitmen yang kuat,” tegasnya.

Secara nasional, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan tebu seluas 97.970 hektare pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur memperoleh target terbesar dengan total 54.897 hektare.

“Ini menunjukkan Jawa Timur dipercaya sebagai garda terdepan penguatan industri gula nasional. Amanah ini akan kami jawab dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja kolaboratif,” ujarnya.

Baca juga: Khofifah: Inovasi Harus Menjadi Budaya dalam Ekosistem Pendidikan Jawa Timur

Sebagai provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia, Jawa Timur saat ini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Pada tahun 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur mencapai 1.343.995 ton, tertinggi dalam satu dekade terakhir.

“Capaian ini merupakan hasil gotong royong seluruh elemen, mulai dari petani, pabrik gula, pemerintah, hingga perguruan tinggi dan lembaga penelitian,” ungkapnya.

Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan sektor hulu dan hilir untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri gula nasional.

Menurutnya, Kabupaten Kediri memiliki potensi besar dengan luas lahan tebu mencapai sekitar 25 ribu hektare serta didukung tiga pabrik gula.

“Ini menjadi kekuatan strategis yang harus terus didorong agar Kediri semakin berkembang sebagai pusat pertumbuhan industri gula nasional,” katanya.

Ke depan, Pemprov Jawa Timur akan terus memberikan dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian, penguatan irigasi, hingga mitigasi perubahan iklim.

“Kita menghadapi tantangan besar mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga persaingan global. Karena itu, inovasi dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.

Ia berharap tanam perdana tebu ini menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

“Mari kita jadikan sektor pergulaan sebagai penggerak ekonomi rakyat dan penguat kesejahteraan petani Jawa Timur,” pungkasnya.

Baca juga: Lepas Kloter Terakhir Embarkasi Surabaya, Khofifah Berpesan Jemaah Jaga Kesehatan dan Doakan Kedamaian Indonesia

Sementara itu, Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil mengatakan program bongkar ratoon dan tanam perdana tebu dilaksanakan serentak di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, baik secara luring maupun daring.

“Kediri memiliki prestasi besar. Mari kita dorong bersama agar mampu mewujudkan swasembada gula nasional,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kinerja Jawa Timur yang dinilai unggul dalam pengembangan berbagai komoditas pertanian strategis.

“Atas dukungan Ibu Gubernur dan Dirut SGN, kami berharap program ini berjalan sukses,” tambahnya.

Direktur Utama Sinergi Gula Nusantara Mahmudi menambahkan, program bongkar ratoon merupakan bagian dari upaya meningkatkan produksi dan produktivitas gula konsumsi baik di tingkat regional maupun nasional.

“Ini adalah ikhtiar bersama agar target swasembada gula tahun 2026 dapat tercapai,” katanya.

Ia menyebutkan, pelaksanaan tanam perdana diikuti 11 kabupaten/kota dengan total 15 titik tanam.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani. Bantuan meliputi dua unit pompa air untuk komoditas tebu, paket alat dan bahan adaptasi serta mitigasi perubahan iklim, satu unit rice transplanter, satu handtractor rotary, dan satu cultivator.

Editor : Abdul Aziz Qomar

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru