Abaikan Korban Luka, Warga Pamekasan Masih Nekat Ledakkan Petasan Berukuran Jumbo

Reporter : Hendra
TANGKAPAN LAYAR : Warga menyalakan petasan berukuran besar usai salat Idulfitri di Desa Badung, Proppo, Pamekasan, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan risiko keselamatan. (Ist/Klikjatim)

KLIKJATIM.Com | Pamekasan – Tradisi menyalakan petasan saat perayaan Lebaran di Kabupaten Pamekasan, Madura, masih terus berlangsung meskipun telah memicu sejumlah korban luka. Fenomena ini salah satunya terlihat di Desa Badung, Kecamatan Proppo, yang hingga kini sebagian warganya tetap mempertahankan kebiasaan berbahaya tersebut.

Di wilayah itu, masyarakat tidak hanya membeli petasan jadi, tetapi juga merakit sendiri peledak berukuran besar dengan berbagai bentuk unik. Menariknya, petasan-petasan jumbo tersebut diberi nama yang terinspirasi dari ikon-ikon terkenal, mulai dari kapal Titanic, Monumen Nasional (Monas), hingga "Rudal Iran".

Baca juga: Gubernur Khofifah Gelar Pasar Murah di Pamekasan, Optimistis Perkuat Daya Beli Masyarakat dan Berdayakan UMKM

Aksi peledakan dimulai sesaat usai pelaksanaan salat Idulfitri pada Sabtu pagi (21/3/2026), sekitar pukul 08.00 WIB. Aktivitas ini bahkan sengaja disiarkan secara langsung melalui media sosial oleh warga setempat untuk menarik perhatian warganet.

Dalam salah satu potongan rekaman siaran langsung yang beredar di grup WhatsApp, terdengar seseorang mengajak penonton untuk menyaksikan aksi tersebut dengan nada antusias.

“Ayo, teman-anak, masih ada rudal Iran. Sayang kalau tidak ditonton,” ucapnya sebagaimana dikutip dari laman Klikjatim.com, Minggu (22/3).

Baca juga: Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Aksi nekat ini menuai respons beragam di jagat maya. Sebagian warganet mengingatkan akan risiko besar yang dapat ditimbulkan, termasuk potensi tindakan tegas dari aparat kepolisian. Namun, tak sedikit pula komentar yang terkesan abai dan justru menantang keberadaan petugas di lapangan.

Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh warga Desa Badung lainnya, salah satunya Saiful (36). Ia membenarkan adanya kegiatan peledakan petasan tersebut, namun ia menegaskan bahwa tidak semua warga mendukung tradisi ini karena dinilai sangat membahayakan keselamatan jiwa dan ketenangan lingkungan.

Baca juga: Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Petakan Potensi Wisata Sumber Belerang Kaduara Timur

Menurut Saiful, ketakutan warga bukan tanpa alasan. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, sedikitnya tujuh orang dilaporkan telah menjadi korban ledakan petasan di wilayah tersebut. Beberapa di antaranya menderita cedera yang sangat serius hingga harus menjalani tindakan medis amputasi.

Meski risiko cacat permanen hingga kematian menghantui, euforia petasan raksasa ini tampaknya masih menjadi tantangan besar bagi upaya penegakan hukum dan keselamatan masyarakat di Pamekasan saat momen hari raya.

Editor : Fatih

Lowongan & Karir
Berita Populer
Berita Terbaru